Arsip Kategori: Opinion

Bagaimana Membuat Alat Evaluasi Kompetensi Pemecahan Masalah? [Menjawab Pertanyaan dari Fitria Hima Mahligai]


Metode IDEAL untuk Pemecahan Masalah

Setelah mempublikasikan tulisan saya tentang perbedaan Project Based Learning dan Problem Based Learning, sebuah pertanyaan datang pagi ini dalam fasilitas komentar blog saya.

Pertanyaan datang dari Ibu Fitria Hima Mahligai seorang guru SMP di Pemalang, Jawa Tengah. Beliau ini merupakan rekan kerja saya dulu di proyek DBE2 USAID. Berikut adalah pertanyaannya:

Dear Pak Gora,
Terima kasih saya jadi tambah paham. Di sekolah tempat saya mengajar, Bapak & Ibu guru masih banyak yang bingung untuk membuat alat evaluasi kompetensi pemecahan masalah. Saya sudah mengenalkan model-model pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, di situ banyak model yang bisa dikombinasi untuk mengasah kompetensi pemecahan masalah siswa. Tapi bukti-bukti hasil belajar siswa misalnya yang berupa peta konsep, lembar kerja atau produk penelitian siswa belum bisa diterima (dianggap belum cukup) sebagai bukti untuk memberikan penilaian. Sehingga jadi enggan menggunakan pembelajaran yang lebih high ordered thingking tadi. Selalu larinya ke soal-soal cerita saja. Bagaimana pendapat Pak Gora atau rekan-rekan? Padahal misinya adalah meningkatkan kompetensi siswa agar menjadi insan bermutu tinggi.

Baca lebih lanjut

Iklan

Project Based Learning VS Problem Based Learning


PBL, Student Centered Learning

“Apa bedanya Project Based Learning dan Problem Based Learning?” Pertanyaan ini mungkin merupakan pertanyaan klasik bagi para pendidik yang masih penasaran tentang dua strategi pengajaran ini.

Untuk mengobati penasaran, saya mencoba mencari dan mengumpulkan beberapa literatur di Internet untuk menjawab pertanyaan tersebut. Terdapat beberapa pandangan mengenai perbedaan kedua strategi pengajaran ini.

Baca lebih lanjut

Mobile Blogging dengan WordPress for Blackberry


Screenshot WordPress for Blackberry

Screenshot WordPress for Blackberry

Mau ngeblog dimana aja pakai BB? Asyik juga kali ya? Jadi setiap ada peristiwa, ide dan berita baru yang tiba-tibab hadir dihadapan kita dapat segera kita informasikan ke khalayak lewat blog. Konsep mobile blogging seperti ini akan lebih mudah dilakukan menggunakan piranti mobile handheld seperti smartphone dan PDA yang telah diinstall aplikasi blogging.

Salah satu aplikasi blogging yang saat ini saya gunakan adalah WordPress for Blackberry, aplikasi gratis untuk Blackberry ini sudah sangat cukup untuk melakukan mobile blogging. Syarat lain bagi handheld yang digunakan untuk ngeblog mobile adalah adanya kamera digital yang berkualitas bagus. Hebatnya, dalam aplikasi ini kita dapat menentukan dimensi gambar yang ditampilkan dalam blog, karena aplikasi ini akan melakukan penyesuaian ukuran gambar yang diupload.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak ngeblog. Ayo unduh aplikasinya!

Bagaimanakah Pemanfaatan TIK yang Efektif dalam Pembelajaran?


Winastwan Gora Menjadi Pembicara di Acara Seminar Pendidikan Menyambut Milad UAD Yogyakarta

Saat ini mungkin telah banyak para pendidik yang sudah mulai membawa perangkat TIK (Teknologi Informasi dan Informasi) yang dimilikinya kedalam kelas untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Sebagaian besar dari mereka hanya memanfaatkan perangkat TIK tersebut sebagai perangkat presentasi satu arah saja, tidak lebih dari itu.

Dengan hanya menjadikan perangkat TIK sebagai media presentasi satu arah, misalnya untuk menjelaskan materi pembelajaran di depan kelas saja maka pemanfaatan TIK tersebut tidak akan membawa manfaat lebih kepada para siswa. Padahal dengan kreatifitas, sebagai seorang didik kita dapat memanfaatkan TIK yang ada untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. Berbagai hal tentang pemanfaatan TIK yang efektif di dalam kelas ini disampaikan oleh Winastwan Gora dalam acara Seminar Nasional “Pemanfaatan ITC dalam Pendidikan” merupakan bagian dari acara Milad UAD ke-50 tahun yang berlangsung pada tanggal 05 Februari 2011 di kampus Universitas Ahmad Dahlan di Jl. Kapas 9, Semaki Umbulharjo, Yogyakarta. Pembicara lain yang hadir dalam seminar ini adalah Prof. Suwarsih Madya, Ph.D dan Ari Budiyanto, Amd.

Baca lebih lanjut

Jurus Maut Mempromosikan Sekolah atau Universitas Swasta


Kali ini The Indiebrainer mencoba berbicara tentang marketing dan komunikasi, bukannya sok jago 🙂 cuman sekedar iseng saja menumpahkan ide yang ada di kepala, takutnya akan membatu di otak jika tidak tersalurkan he..he… Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari pengalaman yang didapatkan penulis ketika menyambangi beberapa sekolah/universitas yang maju dan berhasil. Muncul pertanyaan “mengapa universitas mereka begitu maju dan memiliki banyak mahasiswa? padahal mereka jarang berpromosi lewat media masa, saya jarang sekali melihat spanduk atau baliho bergambar universitas ini di jalan-jalan, kira-kira resep promosi apa yang mereka pakai? apakah mereka menggunakan konsultan marketing? atau mereka punya marketing internal yang handal?”.

Hal ini mungkin tidak terfikirkan oleh PTN (Perguruan Tinggi Negeri)/Sekolah Negeri karena mereka tidak perlu berpromosi lagi untuk mendapatkan siswa/mahasiswa reguler, cukup pampang sebuah papan pengumuman kecil di depan sekolah yang menerangkan bahwa mereka membuka pendaftaran baru, maka pendaftar akan berbondong-bondong untuk kesana. Namun hal ini bertolah belakang dengan kondisi PTS (Perguruan Tinggi Swasta)/Sekolah Swasta di Indonesia. Banyak PTS yang kekurangan mahasiswa alias jumlah mahasiswanya hanya sedikit. Padahal, institusi pendidikan swasta seperti ini sangat bergantung pada pemasukan yang berasal dari mahasiswa. Lain kata, dari dana mahasiswa inilah mereka bisa menopang hidup.

Universitas/sekolah swasta yang masih bisa bertahan dan tidak terpengaruh dengan kondisi ini hanya punya satu resep, yaitu reputasi mereka dimata masyarakat dinilai baik. PTS/Sekolah swasta seperti ini bisa tetap berkibar dan mampu menarik minat banyak calon siswa/mahasiswa baru. Banyak dari mereka yang telah punya pelanggan-pelanggan tetap berdasarkan getok tular atau dari mulut ke mulut. Jadi mahasiswa mereka bukanlah pelanggan yang mengetahui informasi instan dari media masa dan terbuai dengan indahnya kata-kata dalam setiap iklan publikasinya.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Membawa Twitter ke Dalam Kelas?


Twitter untuk kelas Anda

Salah satu alasan membawa teknologi informasi dan komunikasi dalam ruang kelas adalah guru dan siswa dapat memperoleh informasi secara cepat dan belajar dengan menyenangkan. Salah satu tool yang sedang nge-trend saat ini adalah Twitter. Aplikasi micro-blogging gratis ini memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan informasi sepanjang 140 karakter dengan mudah dan cepat. Saya sangat menyukai aplikasi ini, karena selain update status via web, sayapun bisa melakukannya di handphone.

Sebagai seorang fasilitator/pendidik kreatif tentu saja kita harus mampu untuk menggunakan berbagai macam media dan mengkombinasikannya untuk mendukung tujuan pembelajaran kita. Dengan penggunaan teknologi khususnya Twitter, peserta/siswa akan merasa senang untuk belajar karena mendapatkan hal baru dan pengalaman baru. Nah, bagaimanakah cara pemanfaatan Twitter ini di dalam kelas?.

Baca lebih lanjut

Menggagas Penerapan Strategi PBL (Project Based Learning) untuk Bidang Studi Teknik Informatika


pbl-1

Mahasiswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil

Sebagai seorang dosen Teknik Informatika, dalam hati kecil saya merasakan keprihatinan terhadap kualitas lulusan yang telah dihasilkan. Ternyata, banyak dari mereka ketika baru saja lulus, merasa bahwa masih nol dalam aplikasi di dunia nyata, merasa sulit untuk bekerja mandiri menemukan solusi-solusi memecahkan masalah yang dihadapi dalam dunia kerja. Sebagai pengelola institusi pendidikan tentu saja harus mulai berfikir, apakah selama ini cara penyampaian dan konten materi pembelajaran serta kurikulumnya telah mampu mengantar mereka menjadi lulusan yang diharapkan? Kalau belum, maka dimanakah letak kelemahannya dan apa solusi yang harus dilakukan untuk mengantar mereka sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

Penataan ulang atau mengupdate kurikulum agar sesuai dengan kemajuan jaman dan kebutuhan dunia kerja merupakan kebutuhan mutlak. Peningkatan kapasitas tenaga pengajar dengan berbagai kemampuan tentang seni mengajar orang dewasa (andragogi) sangat dibutuhkan. Namun demikian untuk membuat sebuah perubahan pada sesuatu yang telah lama mengakar bukan perkara yang mudah. Banyak para staf pengajar yang kurang update dari sisi keilmuan, belum lagi fondasi pedagogis dan andragogi mereka juga kurang terasah, terkesan masih sangat dominan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru serta kurang mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik.

Tulisan ini mungkin bukan kali pertama yang mencoba untuk mengangkat pendekatan PBL (Project Based Learning) dalam bidang studi keteknikan namun saya hanya mencoba untuk mengangkat kembali ide/pemikiran ini dengan cara yang lebih simpel dan barangkali saja dapat membantu para pengelola institusi pendidikan serta para pendidik yang sudah mulai berfikir kearah kualitas pendidikan.

Baca lebih lanjut