Arsip Kategori: Semarang Watch

Sensasi Kerak Telor di Simpang Lima


Angkring Kerak Telor 

Pernah dengar Kerak Telor? Yah itulah salah satu makanan khas kota Betawi alias Jakarta. Saya sendiri belum pernah merasakan enaknya makanan khas Jakarta ini. Nah, pas jalan-jalan ke Simpang Lima di kota saya tercinta Semarang, mata saya tertuju pada dua angkring pedagang Kerak Telor yang mangkal di depan E-Plaza. Setelah mengitari Simpang Lima satu kali putaran :), kami sekeluarga berkeinginan untuk mencoba hidangan khas tersebut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Peta Interaktif Pariwisata Kota Semarang


SemarangMap

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke kota Semarang atau hanya sekedar ingin mengenal kota loenpia ini, beberapa mahasiswa Teknik Informatika UNISSULA Semarang telah bersusah payah membuat peta interaktif pariwisata kota ini untuk Anda. Peta interaktif dalam format flash ini menampilkan informasi jalan dan lokasi wisata. Peta interaktif hasil karya mahasiswa ini dibuat sebagai tugas dalam mata kuliah Teknologi Multimedia. Aplikasi yang diupload dikemas dalam format kompresi RAR (*.rar) sehingga untuk membukanya Anda membutuhkan aplikasi semacam WinRAR. Ekstrak file RAR tersebut kemudian jalankan file SemarangMap.swf yang ada dalam folder hasil ekstraksi. Selamat jalan-jalan! ūüôā

Download Peta Interaktif Kota Semarang

Sweeping Selesai, Ya Balik Lagi ke Windows Bajakan


Kalo ngga begitu yaa bukan Indonesia namanya..he..he.. Ya, beberapa hari yang lalu ketika sweeping software berlangsung di toko komputer, lembaga kursus dan warnet maka mereka yang di-sweeping beramai-ramai untuk melakukan migrasi ke GNU/Linux. Waktu itu saya menyangka kalau sweeping yang dilakukan pihak kepolisian kali ini akan membawa dampak positif bahwa penggunaan software opensource akan meluas, namun hal itu hanya impian belaka. Banyak dari toko komputer dan warnet yang kembali lagi menggunakan software bajakan setelah sweeping selesai. Ah..sama juga ternyata… [The Indiebrainer]

Sweeping, Kenapa Harus Tutup?


Siang tadi saya berniat untuk membeli kipas prosesor merek ThermalTake, namun malang menjemput, tidak ada satupun toko komputer buka. Akhirnya dengan tangan hampa saya pulang tanpa hasil. Nanya ke temen-temen yang punya bisnis toko komputer, ternyata sampai tanggal 15 Agustus mereka tidak berani buka dan berjualan, dikarenakan adanya sweeping dari pihak kepolisian. Hah? Kenapa mesti tutup? pertanyaan itu yang langsung hinggap di otakku.

Padahal seingatku, teman yang punya toko komputer pernah cerita bahwa tiap bulannya dia selalu ditarik “upeti”, yang katanya untuk uang keamanan agar tidak kena razia software ilegal. Upeti itu katanya disetorkan ke Polsek, Polres dan Polda, yang besarannya mencapai 500 ribuan sebulannya. Tapi kenapa saat ini mereka masih merasa takut? Kalo sudah bayar upeti mestinya mereka tidak harus takut menghadapi razia, betul tidak?

Saya menganggap inilah buah ketergantungan kita, yang terlalu lama bergantung dengan software illegal. Karena ketidak-siapan dari toko komputer akhirnya mereka harus tutup selang beberapa waktu, padahal kalo mereka jauh-jauh hari telah familiar dengan solusi Free Open Source Software (FOSS) maka mereka tidak perlu takut lagi dengan hal seperti ini.

Masih mending warnet-warnet di sekitar tempat tinggalku, mereka hanya tutup beberapa hari untuk mempersiapkan migrasi, setelah migrasi selesai mereka buka seperti biasa. Malam ini saya coba ngenet di salah satu warnet yang berhasil migrasi, lumayan juga, mereka memakai Ubuntu 7.04 di client dan Indobilling untuk billing warnet nya. Kadang untuk bisa memang perlu untuk dipaksa… Sweeping seperti sekarang inilah yang saya nanti-nantikan supaya FOSS lebih merakyat dan ketergantungan terhadap propertiary software dapat dikurangi… Selamat menempuh hidup baru! [The Indiebrainer]

Laporan Seminar Open Source untuk Pendidikan di UNISSULA


Demi Haki, harga diri bangsa tergadaikan, kalimat tersebut sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Semenjak diberlakukannya Undang-Undang Haki Tahun 2003 maka penggunaan, penyebarluasan dan perdagangan software komputer ilegal dapat dikenai sangsi hukum. Karena itulah banyak pihak, mulai dari kantor pemerintahan, BUMN dan perusahaan swasta serta institusi pendidikan melakukan belanja software legal untuk mematuhi Undang-Undang Haki. Ternyata, dari proses belanja (lisensi) dan biaya berlangganan software tersebut, milyaran rupiah tersedot keluar negeri setiap tahunnya. Hal ini merupakan dampak dari ketergantungan sebagian besar rakyat Indonesia terhadap software berbayar mulai dari sistem operasi, pengolah kata, spreadsheet, aplikasi presentasi, desain grafis dan lain sebagainya.

Seminar Open Source

Padahal kalau kita mau mencari dan belajar, di dunia maya (Internet) terdapat banyak sekali solusi software bebas lisensi yang sengaja disebarluaskan secara gratis, hal ini tentu saja akan banyak membantu menyelamatkan milyaran rupiah agar tidak terbang ke negeri seberang. Namun tampaknya sebagian besar dari pengguna komputer belum mengetahui tentang solusi tersebut. Untuk itu pada hari Rabu, tanggal 25 Juli 2007, Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang mengadakan sebuah seminar bertajuk ‚ÄúPemanfaatan Software Open Source untuk Dunia Pendidikan‚ÄĚ. Acara yang dihadiri oleh sekitar seratus lima puluh peserta yang terdiri dari para guru dan siswa (SMP, SMU dan SMK) se-Kodya Semarang, mahasiswa, dan anggota komunitas Linux ini bertujuan untuk mensosialisasikan solusi software bebas dan berkode sumber terbuka yang disebut sebagai FOSS (Free Open Source Software) di lingkungan pendidikan. Karena sifatnya yang bebas dan berkode sumber terbuka, maka software ini dapat dikembangkan kembali dan dirubah kode programnya untuk disesuaikan dengan kebutuhan

Baca lebih lanjut

SULAX : Sultan Agung Linux – Bukan Kemoceng! Distribusi Linux dari UNISSULA


Beberapa hari ini penulis disibukkan dengan “mainan baru” sehingga belum sempat melalukan posting dan meng-update blog The Indiebrainer. Mainan baru tersebut adalah mengaktifkan kembali komunitas linux di Teknik Informatika UNISSULA yang kami beri nama DOS (Dakwah Open Source). Sebenarnya lebih dari setahun yang lalu DOS ini dibentuk, namun belum ada kegiatan rutin yang dilakukan.¬†Ide untuk menggerakkan kembali aktifitas DOS ini¬†muncul setelah penulis menghadiri Seminar JGOS 2007 di UGM Yogyakarta minggu kemarin. Paparan dari para narasumber seperti Mas Rusmanto (Pimred InfoLinux dan Ketua Yayasan Penggerak Linux Indonesia), Pak Bambang Prastowo (Aktivis Linux dan Kepala PPTIK UGM) serta Pak Budi Rahardjo (Blogger, Aktivis Linux dan Dosen ITB) begitu menggugah semangat yang setahun ini hilang.

Selama kurang lebih dua hari penulis telah menghubungi para aktivis DOS pendahulu seperti Desri dan Sam, kemudian penulis juga mengutarakan keinginan ini di depan kelas Jaringan Komputer pada saat perkuliahan berlangsung. Alhamdulillah, pada hari Rabu, 23 Mei 2007 kemarin pada pukul 13.00 penulis berhasil mengumpulkan 12 orang mahasiswa di kelas untuk membahas pengembangan DOS kedepan. Antusiasme ini diluar dugaan, karena penulis mengira forum ini hanya akan dihadiri oleh 5 orang mahasiswa saja.

Dalam forum tersebut disepakati pembentukan pengurus baru DOS dengan Ketua-nya Sam Fahriza. Penulis dalam DOS bertindak sebagai Pembina bersama rekan dosen Hud Munawar, ST, MT yang pada hari¬†itu hadir pula untuk memberikan motivasi.¬†Dalam acara tersebut penulis memaparkan pula tentang apa itu¬†Opensource, apa itu Linux, dan lain sebagainya. Disepakati pula untuk membuat sebuah¬†distribusi Linux¬†buatan UNISSULA, semua yang hadir juga¬†sepakat untuk memberi nama distro tersebut dengan nama SULAX yang merupakan singkatan dari Sultan Agung Linux. Kata SULAX sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Jawa “Sulak” yang berarti kemoceng atau¬†alat pembersih yang¬†dibuat dari kayu dan bulu unggas. Tag line dari SULAX ini adalah “Membersihkan¬†Komputer dari¬†Software Bajakan”. Di forum ini pula penulis mendemokan pembuatan (remastering) distro linux dalam 5 menit, hal ini bertujuan memberi gambaran singkat tentang pembuatan distro linux.

Tim pengembangan SULAX telah aktif melakukan pengembangan hari ini, tadi pagi penulis telah mengecek aktivitas mereka di ruang khusus sebagai laboratorium pengembangan, di lantai 2 gedung Fakultas Teknologi Industri, ternyata mereka sedang mempelajari tentang linux Slackware dan SLAX live CD yang kita gunakan sebagai pijakan pengembangan. Mengapa kita menggunakan platform Slackware untuk membuat distro turunan SULAX, mungkin karena ringan dan simpelnya distro ini.

Sebelum ini sebenarnya penulis telah berembug dengan Kepala UPT Komputer dan Teledukasi UNISSULA, Pak M. Taufik ST, MIT untuk merubah kurikulum IT-Literacy yang ada di UNISSULA dengan menggunakan software Open Source, karena sebelumnya mahasiswa diajarkan IT-Literacy menggunakan propertiary software semacam Windows dan MS. Office. Nah, nantinya SULAX akan dipakai menggantikan software-software tersebut. Hal tersebut merupakan langkah awal migrasi ke Open Source yang kita lakukan di UNISSULA, yakni dengan sistem migrasi bottom-up. Setelah hal ini berhasil maka proses migrasi akan berlanjut ke komputer-komputer yang ada di Biro Rektor. Semoga dapat bermanfaat! [The Indiebrainer]

The Indiebrainer Tampil Di Rubrik BlogPrint, Harian Suara Merdeka


blogprintPada hari Minggu kemarin (1/4/2007), salah satu artikel yang ada di blog ini dimuat di rubrik BlogPrint di harian SUARA MERDEKA. Artikel yang dimuat dalam rubrik tersebut adalah artikel ‚ÄúNonton Empat Mata dan Tukul Arwana di Internet‚ÄĚ, yang diposting beberapa waktu yang lalu.

Rubrik BlogPrint memang dikhususkan untuk memuat artikel-artikel menarik yang diposting di blog yang tersebar di dunia maya. Rubrik yang masih tergolong baru ini merupakan inovasi baru dari harian SUARA MERDEKA dan paling dinantikan oleh para blogger di
Semarang.

Terima kasih kami ucapkan kepada redaktur BlogPrint (Mas Asep) yang telah memuat artikel yang ada di blog ini. Bagi Anda yang memiliki blog, dan ingin artikelnya dimuat di rubrik ini, silahkan kirimkan URL dan deskripsi blog yang Anda miliki ke alamat email : koneksm@yahoo.com. [The Indiebrainer]