Arsip Bulanan: Juni 2007

Kenapa Kami Harus Bermigrasi? Bikin Repot Aja!, UGOS (UNISSULA Goes Open Source) Mimpi Kali Yeeee….


Ya, ungkapan diatas memang sering menghinggapi pemikiran penulis ketika memutuskan berniat untuk mengusung gerakan UGOS (UNISSULA Goes Open Source) di lingkungan kampus tempat bekerja. Jangan-jangan karena ketidak-tahuan mereka, gerakan ini akan dicibir dan dimusuhi, dikirannya kami hanya cari sensasi dan kurang kerjaan. Ah, fikiran tersebut sebaiknya penulis singkirkan saja, mengingat banyak juga pihak yang mendukung setelah mendapat penjelasan dari penulis.

Sedikit gambaran mengenai kampus kami, kampus UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang didirikan oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung. Setiap tahunnya UNISSULA mendapat suntikan dana investasi puluhan juta rupiah untuk membayar lisensi sistem operasi dan beberapa aplikasi propertiary (dalam kerjasama Microsoft Campus Agreement – MSCA). Beberapa tahun yang lalu kami memutuskan untuk menjalin kerjasama ini dikarenakan keinginan dari pihak kampus untuk melegalkan sistem operasi dan aplikasi perkantoran yang dipakai oleh sebagian besar keluarga besar kampus ini. Bukan itu saja, harapan kami setelah menjalin kerjasama ini kami akan mendapatkan ”nilai lebih” atas aplikasi yang kami beli. Artinya pihak Microsoft akan mengadakan kegiatan-kegiatan yang akan meningkatkan pengetahuan pihak kampus akan aplikasi-aplikasi yang dibeli. Belum lagi keinginan kami untuk lebih dekat dengan team support Microsoft supaya mudah untuk mendapatkan dukungan teknis apabila mendapati kendala dalam aplikasi. Namun kesemua diatas itu hanyalah utopia belaka, tak ada nilai lebih, tak ada support (kami pun belum pernah menelepon Microsoft untuk meminta bantuan), kami hanyalah menerima kiriman CD-CD aplikasi saja, tidak lebih dari itu.

Baca lebih lanjut

Pendidikan Kewirausahaan Teknologi Informasi yang Setengah Hati


Tulisan ini merupakan keluh kesah penulis yang selama ini melihat ketidakseriusan pihak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan teknologi informasi dan informatika khususnya, dikarenakan program studi yang selama ini ada tidak dengan serius memberikan materi kewirausahaan teknologi informasi. Yang selama ini terjadi adalah pendidikan kewirausahaan di realisasikan dalam sebuah mata kuliah kewirausahaan yang notobene hanya 2 (dua) SKS saja, itupun tidak spesifik menyentuh aspek praktik teknologi informasi. Dengan volume pengajaran yang 2 (dua) SKS saja, penulis mengira masih belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal, seperti yang diharapkan oleh institusi pendidikan tinggi, yaitu mencetak wirausaha di bidang teknologi informasi.

Selama ini dosen kewirausahaan hanya mengajarkan teori-teori kewirausahaan, kepemimpinan dan ekonomi saja, namun aplikasi di lapangan, pentingnya HAKI dan kemandirian teknologi (seperti penggunaan software opensource) tidak pernah disentuh. Bahkan lucunya, banyak pula dari dosen yang mengajarkan kewirausahaan tersebut belum atau tidak memiliki usaha mandiri atau berwirausaha. Hasilnya, pendidikan teknologi informasi di Indonesia tetap saja menghasilkan banyak kuli-kuli TI yang terkungkung sebagai mesin uang bagi pemilik modal besar.

Terdapat sebuah contoh menarik yang dilakukan oleh Universitas Gunadarma, yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Universitas ini memiliki sebuah bisnis inkubator yang setiap tahunnya berusaha mencetak lebih dari 10 (sepuluh) perusahaan TI dari para mahasiswanya yang telah lulus. Dalam inkubator bisnis tersebut kelompok mahasiswa diajarkan pendidikan kewirausahaan, mulai dari pembuatan proposal bisnis, studi kelayakan usaha, pendidikan ketrampilan, kepemimpinan dan organisasi, kemandirian teknologi (dengan software opensourse) sampai pada hasil akhir berupa sebuah perusahaan TI lengkap dengan ijin badan usaha dari pemerintah (berbentuk CV). Staf pengajar yang bergerak di inkubator bisnis lebih banyak dari para praktisi TI yang telah berhasil berwirausaha. Untuk menjalankan inkubator bisnis tersebut universitas dibantu oleh Departemen Perindustrian, khususnya dalam urusan dana. Terbukti, saat ini banyak perusahaan IT di Indonesia di dominasi oleh perusahaan hasil inkubator bisnis dari Universitas Gunadarma. Tanpa bantuan dari pemerintahpun sebenarnya setiap perguruan tinggi dapat menjalankan model pendidikan kewirausahaan seperti ini disesuaikan dengan besaran dana yang ada. 

Sepenggal pengalaman tersebut adalah bukti konkret keberhasilan pendidikan kewirausahaan teknologi informasi di perguruan tinggi yang memiliki program studi teknologi informasi, informatika dan komputer. Penulis berharap apa yang telah dipaparkan diatas dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi yang lain untuk melakukan hal yang sama, agar bangsa ini dapat segera lepas dari masalah pengangguran.

SULAX untuk Revolusi Kurikulum IT-Literacy di UNISSULA


Sudah hampir 6 (enam) tahun ini pendidikan IT-Literacy berlangsung di universitas kami. Mata kuliah IT-Literacy sendiri merupakan usaha dari pihak universitas untuk mengenalkan teknologi informasi, khususnya komputer dan Internet kepada mahasiswa baru UNISSULA. Nampaknya dari penyelenggaraan tersebut perlu adanya sebuah perubahan agar kualitasnya menjadi jauh lebih baik. Beberapa catatan dari penulis untuk penyelenggara IT-Literacy, yaitu UPT Komputer dan Teledukasi UNISSULA :

  1. Mengganti materi software perkantoran yang diajarkan dengan aplikasi Open Source (misalnya Open Office) supaya tidak berkesan menanamkan ketergantungan terhadap sebuah paket aplikasi propertiari (dalam hal ini adalah Microsoft Office)
  2. Menambah pengetahuan tentang sistem operasi yang lain (dalam hal ini adalah Linux), selain sistem operasi Windows
  3. Menambah kurikulum IT-Literacy dengan materi pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaa Intelektual), supaya mahasiswa sadar hukum tentang pembajakan software.

SULAX (Sultan Agung Linux) merupakan salah satu dukungan dari komunitas Dakwah Open Source (DOS) Teknik Informatika UNISSULA untuk mendukung perubahan kurikulum IT-Literacy di UNISSULA, namun hal tersebut masih harus mendapat dukungan penuh dari para stake holder dan segenap pengajar IT-Literacy. Dilema yang biasanya ditakutkan ketika migrasi terjadi adalah sulitnya para pengajar dapat menerima hal yang baru ini, mengingat ketergantungan dan keterbiasaan mereka akan sebuah platform (yaitu Windows dan Microsoft Office). Banyak dari mereka yang biasanya malas untuk mempelajari hal yang baru, namun kami berharap hal tersebut tidak terjadi di UNISSULA 🙂 . Belajar IT-Literacy dengan SULAX akan membawa mahasiswa ke tataran yang lebih jauh dari sekedar belajar menggunakan aplikasi dengan klak-klik saja, semoga SULAX dapat memberi kemanfaatan lebih.. [The Indiebrainer]