Arsip Kategori: Telecommunication

40 Keterampilan Teknologi yang Wajib Dikuasai Pendidik (Update)


Laura Turner, seorang praktisi teknologi pendidikan mencatat berbagai keterampilan teknologi yang harus dikuasai oleh pendidik pada era sekarang. Pada tahun 2005 beliau merilis sebuah tulisan 20 keterampilan teknologi dasar yang harus dikuasai pendidik dalam The Journal, kemudian di tahun 2010 beliau menulis kembali 20 keterampilan teknologi bagi pendidik di Guide2DigitalLearning sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya. Sayapun telah menambahkan beberapa keterampilan sebagai update atas daftar yang telah dikumpulkan sebelumnya. Berikut adalah keterampilan-keterampilan tersebut.

(Update Terakhir : 08/01/2012)

Baca lebih lanjut

Mobile Blogging dengan WordPress for Blackberry


Screenshot WordPress for Blackberry

Screenshot WordPress for Blackberry

Mau ngeblog dimana aja pakai BB? Asyik juga kali ya? Jadi setiap ada peristiwa, ide dan berita baru yang tiba-tibab hadir dihadapan kita dapat segera kita informasikan ke khalayak lewat blog. Konsep mobile blogging seperti ini akan lebih mudah dilakukan menggunakan piranti mobile handheld seperti smartphone dan PDA yang telah diinstall aplikasi blogging.

Salah satu aplikasi blogging yang saat ini saya gunakan adalah WordPress for Blackberry, aplikasi gratis untuk Blackberry ini sudah sangat cukup untuk melakukan mobile blogging. Syarat lain bagi handheld yang digunakan untuk ngeblog mobile adalah adanya kamera digital yang berkualitas bagus. Hebatnya, dalam aplikasi ini kita dapat menentukan dimensi gambar yang ditampilkan dalam blog, karena aplikasi ini akan melakukan penyesuaian ukuran gambar yang diupload.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak ngeblog. Ayo unduh aplikasinya!

Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia


Selama beberapa hari berkeliling ke 7 (tujuh) propinsi di Indonesia untuk memberikan pelatihan e-Learning bagi 14 (empat belas) universitas mitra, saya menemukan banyak hal yang berguna. Lewat diskusi yang kami lakukan dengan para staf pengajar dan pengelola lembaga dari banyak universitas penghasil guru tersebut, kami jadi mengerti kendala dan tantangan apa saja yang mereka hadapi ketika menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dalam kelas-kelas mereka.

Pemanfaatan e-Learning sebagai solusi perluasan akses pendidikan bagi mereka-mereka (para guru yang menempuh pendidikan S-1) yang tersebar di pelosok-pelosok Indonesia menjadi sebuah solusi untuk menyelenggarakan pendidikan secara jarak jauh dengan efisiensi nyata dari sisi biaya. Pengeluaran besar yang harus dikeluarkan untuk mengirimkan dosen ke daerah-daerah terpencil dapat diminimalisir, sehingga biaya pendidikan akan menjadi lebih murah. Namun kita juga harus realistis melihat kondisi di Indonesia saat ini, bahwa masih terdapat banyak tantangan yang menghadang di depan.

Baca lebih lanjut

Menikmati Sajian M-Learning Ala M-Edukasi.Net


Tampilan Portal M-Edukasi.Net dalam Layar Handphone

M-Learning atau Mobile Learning atau pembelajaran yang memanfaatkan piranti mobile (handphone, laptop, PDA, dll) memang cenderung baru di Indonesia. Setidaknya sudah ada beberapa pihak yang telah mengembangkan hal ini sebagai inovasi dalam pembelajaran, sebut saja P4TK Matematika dengan berbagai aplikasi mobile untuk pembelajaran matematikanya. Beberapa lagi mungkin belum banyak terdengar di publik karena masih dalam taraf penelitian dan pengembangan.

Nah, saat ini telah hadir satu lagi karya inovatif anak bangsa, sebuah karya M-Learning dari Balai Pengembangan Multimedia Pustekkom Depdiknas yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Institusi ini mengembangkan M-Learning dengan spesifik pada pengembangan konten bahan ajar pembelajaran multimedia berbasis Flash Lite, sebuah platform pengembangan aplikasi mobile berbasis Adobe Flash. Meski platform aplikasi Flash Lite belum begitu marak, karena tidak semua handphone dilengkapi dengan fitur ini, namun sebagai langkah inovatif, sumbangsih dan usaha ini perlu diacungi jempol.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Membawa Twitter ke Dalam Kelas?


Twitter untuk kelas Anda

Salah satu alasan membawa teknologi informasi dan komunikasi dalam ruang kelas adalah guru dan siswa dapat memperoleh informasi secara cepat dan belajar dengan menyenangkan. Salah satu tool yang sedang nge-trend saat ini adalah Twitter. Aplikasi micro-blogging gratis ini memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan informasi sepanjang 140 karakter dengan mudah dan cepat. Saya sangat menyukai aplikasi ini, karena selain update status via web, sayapun bisa melakukannya di handphone.

Sebagai seorang fasilitator/pendidik kreatif tentu saja kita harus mampu untuk menggunakan berbagai macam media dan mengkombinasikannya untuk mendukung tujuan pembelajaran kita. Dengan penggunaan teknologi khususnya Twitter, peserta/siswa akan merasa senang untuk belajar karena mendapatkan hal baru dan pengalaman baru. Nah, bagaimanakah cara pemanfaatan Twitter ini di dalam kelas?.

Baca lebih lanjut

Do It Yourself Project : Menyelenggarakan Multipoint Video Conferencing Menggunakan Skype


5369_1206539645132_1277908019_609959_5949098_n

Gubernur Sulawesi Selatan Berdialog dengan PSBG DBE2 USAID

Menyelenggarakan video conference dengan banyak orang di tempat terpisah terkadang di benak kita masih terbesit pikiran untuk melakukannya butuh biaya yang mahal. Ada berbagai macam peralatan yang biasa digunakan untuk melakukan hal tersebut salah satunya Polycom, namun perangkat tersebut harganya tentu saja harganya sangat mahal, sekitar 80 jutaan. Hal ini tentu saja sangat mustahil untuk bisa dilakukan oleh institusi atau pribadi dengan kocek minim 🙂 .

Ada alternatif lain untuk menyelenggarakan video conference dengan 4 (empat) tempat berbeda atau yang sering disebut dengan multipoint video conference, yaitu memanfaatkan aplikasi gratis Skype. Skype adalah salah satu perangkat VoIP (Voice Over Internet Protocol) yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi suara, teks dan gambar video secara gratis dan sangat populer di dunia maya. Aplikasi Skype ini secara default hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi video secara point-to-point saja, alias antara satu peserta dengan satu peserta. Namun dengan sedikit kreatifitas, aplikasi ini akan kita gunakan untuk melakukan komunikasi multipoint, atau dengan banyak tempat dan client.

5369_1206505364275_1277908019_609906_7287322_n

Suasana Video Conference

Kami telah mengujicobakan hal ini ketika pelaksanaan kegiatan video conference yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Syahrul Yasin Limpo) dengan 3 (tiga) Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) binaan DBE2 USAID beberapa waktu yang lalu dalam acara Dies Natalis Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Hasilnya memang tidak begitu sempurna, artinya sedikit berbeda kualitas dengan dibandingkan dengan perangkat video conference yang mahal seperti Polycom. Namun hal ini cukup memberikan pengalaman tersendiri khususnya untuk beberapa PSBG yang mengikuti acara ini, yaitu PSBG Pelita Ilmu di Pangkep, PSBG Karya Mandiri Guru di Makassar dan PSBG Harapan Baru di Jeneponto dimana mereka untuk pertama kalinya dapat melakukan dialog secara langsung dengan Rektor UNM dan Gubernur Sulawesi Selatan.

Baca lebih lanjut

Pengembangan Jaringan Gugus Sekolah (ClusterNet), Upaya Gotong Royong Menghubungkan Sekolah dengan Jaringan Global


Antenna pemancar yang menjulang tinggi di depan gedung Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG)

Antenna pemancar yang menjulang tinggi di depan gedung Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) Ki Hajar Dewantara, Kaliwungu, Kudus

Decentralized Basic Education 2 : Teaching and Learning (DBE2) sebagai proyek peningkatan kualitas belajar mengajar di pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengembangkan Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) guna mendukung dan memfasilitasi berbagai kegiatan di setiap gugus sekolah sebagai peningkatan Pusat Kegiatan Guru (PKG) yang telah ada lebih dulu. Sesuai dengan (4) empat fungsinya, Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) yang tersebar di seluruh Indonesia akan digunakan oleh berbagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai tempat pertemuan membahas berbagai rencana kegiatan di gugus (fungsi Pertemuan), sebagai tempat berlangsungnya berbagai kegiatan pelatihan untuk guru (fungsi Pengembangan Profesional), tempat untuk mengembangkan materi pembelajaran dan alat peraga murah (fungsi Produksi), serta menjadi wahana mengakses sumber pembelajaran baik berupa buku, CD Multimedia maupun secara online mengakses sumber pembelajaran di Internet (sebagai fungsi Informasi).

Khusus untuk mendukung keempat fungsi tersebut, terutama untuk mendukung kegiatan komunikasi, kolaborasi, melakukan pencarian dan eksplorasi sumber belajar, PSBG perlu untuk terhubung dengan jaringan global yaitu Internet serta menghubungkan komputer yang ada di PSBG dengan jaringan lokal (Local Area Network). Untuk itu PSBG membutuhkan infrastruktur jaringan Internet dan Intranet, kegiatan ujicoba dan pelatihan untuk mengoptimalkan jaringan yang ada nantinya. Oleh karena itu DBE2 melakukan ujicoba kegiatan “ClusterNet (Cluster Network)” sebagai upaya untuk pembangunan jaringan internet dan jaringan lokal di gugus (cluster).

Antenna tutup panci bolic untuk menghubungkan sekolah dengan koneksi jaringan lokal dan Internet di gugus

Antenna tutup panci bolic untuk menghubungkan sekolah dengan koneksi jaringan lokal dan Internet di gugus

Kegiatan ujicoba dilakukan di 4 (empat) PSBG yang berada di propinsi Jawa Tengah. Keempat PSBG tersebut adalah PSBG Ki Hajar Dewantara (Kaliwungu, Kudus), PSBG Pratiwi Sudarmono (Tahunan, Jepara), PSBG Gatotkaca (Jogonalan, Klaten) dan PSBG Diponegoro (Cepogo, Boyolali). Di keempat PSBG tersebut saat ini telah dibangun antena pemancar untuk menyebarluaskan koneksi jaringan lokal dan Internet yang ada di PSBG kepada sekolah sekitar. Kemudian sekolah yang ada di sekitar PSBG terhubung memanfaatkan perangkat penerima wireless murah yaitu dengan Tutup Panci Bolic :).

Dalam kegiatan ClusterNet ini warga gugus bergotong-royong untuk membayar biaya bulanan langganan Internet. Mereka juga diharapkan dapat berswadaya untuk membuat perangkat penerima wireless yang murah, untuk menghubungkan sekolah mereka dengan koneksi jaringan lokal gugus dan koneksi Internet. Harapan kami koneksi jaringan lokal dan Internet ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan guru dalam menunjang kegiatan pengembangan profesionalisme mereka serta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kepada siswa saat ini. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari gugus untuk melakukan hal ini mengingat kebutuhan pembiayaan yang tidak sedikit. Namun berkat dukungan yang kompak dari sekolah-sekolah yang ada di gugus, serta dukungan dari Kepala UPTD setempat, maka keberlangsungan aktifitas ini dipastikan akan berjalan. Semoga apa yang kita lakukan dapat memberi manfaat untuk pendidikan di Indonesia. Semoga!