Tag Archives: 21st century skills

Apa Perbedaan Utama PjBL dengan Model Pembelajaran Lainnya?


Siswa tengah melakukan penyelidikan terhadap masalah yang ada di sekitar lingkungan sekolah mereka

Siswa tengah melakukan penyelidikan terhadap masalah yang ada di sekitar lingkungan sekolah mereka

Ada sebuah pertanyaan yang sering sekali dilontarkan oleh peserta pelatihan IntelTeach Essentials Course (Project Based Learning), yaitu “Apakah perbedaan utama dari Project Based Learning (PjBL) dibandingkan dengan Problem Based Learning (PBL) atau model-model pembelajaran lainnya?”.

Sebenarnya saya pernah menulis tentang perbedaan ini, khususnya mengenai perbedaan Project Based Learning dan Problem Based Learning disini, namun ada baiknya juga saya memberikan penjelasan yang lain, agar pembaca mendapatkan gambaran yang semakin jelas.

Baca lebih lanjut

Kelase.Com, Free Private Social Network and Online Classroom for Your Educational Institution


Kelase-Screenshot-1

Internet users must be familiar with social networking services like Facebook which is so famous. Within Facebook, you can connect with friends, familiy and unknown people from all over the world. Kelase (from Javanese, which means “class”) has the primary function similar to Facebook, which is equally as social networking. The difference is, Kelase reserved for educational institutions, meaning that Kelase can only be accessed by members of the educational institutions itself (educators / teachers, parents and students). Services like this are usually called as a private social network (private social network).

With Kelase, your educational institution (schools, colleges, and non-formal education institutions) can have its own Facebook. School members can easily communicate using a computer/laptop, smartphone or tablet because Kelase specifically designed for mobile use. Kelase very safe for the children because it is private, where they will only communicate with members of the school, not with strangers as is commonly done with common and open social networking services.

Baca lebih lanjut

Mengenal Kelase.Com, Layanan Gratis Jejaring Sosial dan Kelas Online untuk Institusi Pendidikan


Kelase-Screenshot-1

Pengguna internet pasti sudah tidak asing lagi dengan layanan jejaring sosial Facebook yang begitu mendunia. Dengan Facebook, kita dapat terkoneksi dengan teman, saudara dan orang lain yang sebelumnya belum kita kenal dari seluruh penjuru dunia. Kelase (dari bahasa jawa yang artinya “kelasnya“) memiliki fungsi utama yang sama dengan Facebook, yaitu sama-sama sebagai jejaring sosial. Bedanya, Kelase diperuntukkan bagi institusi pendidikan sehingga bersifat terbatas, artinya hanya dapat diakses oleh anggota institusi pendidikan tersebut (pendidik/guru, orang tua dan siswa). Layanan seperti ini biasanya disebut sebagai jejaring sosial privat (private social network).

Dengan Kelase, institusi pendidikan Anda (sekolah, perguruan tinggi, dan institusi pendidikan non-formal) dapat memiliki Facebook sendiri. Anggota sekolah dapat dengan mudah berkomunikasi dengan Kelase menggunakan komputer/laptop, smartphone maupun tablet karena memang kelase dirancang khusus untuk penggunaan mobile. Karena sifatnya yang terbatas (lingkup institusi) maka Kelase sangat aman bagi anak-anak, dimana mereka hanya akan berkomunikasi dengan anggota sekolah saja, tidak dengan orang asing seperti yang biasa dilakukan dengan jejaring sosial umum/terbuka.

Baca lebih lanjut

[Kelas Inspiratif] Melihat Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek di SDN Jetis 02 Gunung Kidul


Siswa Membandingkan Udara yang Bersih dengan Udara Kotor

Siswa Membandingkan Udara yang Bersih dengan Udara Kotor

Rekan-rekan pembaca blog ini tentu penasaran seperti apa sih penerapan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) di kelas sebenarnya. Sebagai contoh, saya menghadirkan sebuah hasil pendampingan berbasis sekolah yang dilakukan para Widyaiswara LPMP Yogyakarta (yang sebelumnya telah dilatih oleh Intel Education Indonesia) kepada guru-guru di SDN Jetis 02 Gunung Kidul, Yogyakarta di Tahun 2010. Meski kegiatan ini sudah lama dilakukan, dengan ulasan ini harapannya mampu memberikan gambaran bagaimana kegiatan pembelajaran tematik dan kontekstual dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran bertema “Lingkunganku Kotor, Paru-Paruku Bocor”, untuk mata pelajaran utama Ilmu Pengetahuan Alam ini mengajak para siswa untuk melakukan penelitian tentang alat pernafasan dan gangguan alat pernafasan yang disebabkan oleh pencemaran udara yang ada di lingkungan sekitar mereka. Langkah-langkah pembelajaran dijelaskan secara detail dalam ulasan berikut.

Baca lebih lanjut

Ternyata PAKEMATIK Diteliti oleh Mahasiswa UPI Lho!


Perjuangan sebuah tulisan tidak hanya terhenti ketika orang membaca dan terinspirasi, tetapi perjuangannya berhasil ketika terjadi perubahan nyata karena tulisan tersebut – Winastwan Gora

Pada saat surfing di Google siang tadi saya menemukan beberapa tulisan dari orang lain terkait dengan PAKEMATIK (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi), sebuah buku yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu bersama sahabat saya Pak Sunarto. Saya sangat senang karena ada pihak yang telah melakukan penelitian terhadap impact dari PAKEMATIK di dalam kelas nyata. Baca lebih lanjut

Bagaimana Membuat Alat Evaluasi Kompetensi Pemecahan Masalah? [Menjawab Pertanyaan dari Fitria Hima Mahligai]


Metode IDEAL untuk Pemecahan Masalah

Setelah mempublikasikan tulisan saya tentang perbedaan Project Based Learning dan Problem Based Learning, sebuah pertanyaan datang pagi ini dalam fasilitas komentar blog saya.

Pertanyaan datang dari Ibu Fitria Hima Mahligai seorang guru SMP di Pemalang, Jawa Tengah. Beliau ini merupakan rekan kerja saya dulu di proyek DBE2 USAID. Berikut adalah pertanyaannya:

Dear Pak Gora,
Terima kasih saya jadi tambah paham. Di sekolah tempat saya mengajar, Bapak & Ibu guru masih banyak yang bingung untuk membuat alat evaluasi kompetensi pemecahan masalah. Saya sudah mengenalkan model-model pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, di situ banyak model yang bisa dikombinasi untuk mengasah kompetensi pemecahan masalah siswa. Tapi bukti-bukti hasil belajar siswa misalnya yang berupa peta konsep, lembar kerja atau produk penelitian siswa belum bisa diterima (dianggap belum cukup) sebagai bukti untuk memberikan penilaian. Sehingga jadi enggan menggunakan pembelajaran yang lebih high ordered thingking tadi. Selalu larinya ke soal-soal cerita saja. Bagaimana pendapat Pak Gora atau rekan-rekan? Padahal misinya adalah meningkatkan kompetensi siswa agar menjadi insan bermutu tinggi.

Baca lebih lanjut

Bagaimanakah Pemanfaatan TIK yang Efektif dalam Pembelajaran?


Winastwan Gora Menjadi Pembicara di Acara Seminar Pendidikan Menyambut Milad UAD Yogyakarta

Saat ini mungkin telah banyak para pendidik yang sudah mulai membawa perangkat TIK (Teknologi Informasi dan Informasi) yang dimilikinya kedalam kelas untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Sebagaian besar dari mereka hanya memanfaatkan perangkat TIK tersebut sebagai perangkat presentasi satu arah saja, tidak lebih dari itu.

Dengan hanya menjadikan perangkat TIK sebagai media presentasi satu arah, misalnya untuk menjelaskan materi pembelajaran di depan kelas saja maka pemanfaatan TIK tersebut tidak akan membawa manfaat lebih kepada para siswa. Padahal dengan kreatifitas, sebagai seorang didik kita dapat memanfaatkan TIK yang ada untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. Berbagai hal tentang pemanfaatan TIK yang efektif di dalam kelas ini disampaikan oleh Winastwan Gora dalam acara Seminar Nasional “Pemanfaatan ITC dalam Pendidikan” merupakan bagian dari acara Milad UAD ke-50 tahun yang berlangsung pada tanggal 05 Februari 2011 di kampus Universitas Ahmad Dahlan di Jl. Kapas 9, Semaki Umbulharjo, Yogyakarta. Pembicara lain yang hadir dalam seminar ini adalah Prof. Suwarsih Madya, Ph.D dan Ari Budiyanto, Amd.

Baca lebih lanjut