Arsip Tag: Classroom 2.0

Kelase.Com, Free Private Social Network and Online Classroom for Your Educational Institution


Kelase-Screenshot-1

Internet users must be familiar with social networking services like Facebook which is so famous. Within Facebook, you can connect with friends, familiy and unknown people from all over the world. Kelase (from Javanese, which means “class”) has the primary function similar to Facebook, which is equally as social networking. The difference is, Kelase reserved for educational institutions, meaning that Kelase can only be accessed by members of the educational institutions itself (educators / teachers, parents and students). Services like this are usually called as a private social network (private social network).

With Kelase, your educational institution (schools, colleges, and non-formal education institutions) can have its own Facebook. School members can easily communicate using a computer/laptop, smartphone or tablet because Kelase specifically designed for mobile use. Kelase very safe for the children because it is private, where they will only communicate with members of the school, not with strangers as is commonly done with common and open social networking services.

Baca lebih lanjut

Edupunk?, Yeah It’s Me!!!


Jim Groom as Poster Boy for Edupunk

Jim Groom as Poster Boy for Edupunk

Ketika melihat pertama kali kata “Edupunk” pikiran saya langsung tertuju pada sebuah aliran musik rock yang pernah saya gandrungi pada masa-masa SMA dulu. Ya! Punk! sebuah aliran musik yang etos dan semangatnya dapat kita bawa dan contoh dalam kegiatan belajar mengajar. Ketika pertama kali mendapati kata ini di Wikipedia, saya begitu penasaran, hingga menghabiskan banyak waktu saya untuk menyusuri jejak Edupunk ini di dunia maya. Kata “Edupunk” pertama kali digunakan oleh Jim Groom pada 25 Mei 2008 dalam blog-nya.

Jim Groom mengartikan Edupunk ini sebagai pendekatan dalam praktek belajar mengajar yang dihasilkan dari sikap DIY (Do It Yourself). Stephen Downes mengidentifikasi 3 (tiga) aspek dari pendekatan Edupunk ini, yaitu :

Reaksi melawan komersialisasi pendidikan dan kapitalisme teknologi pendidikan
Sikap kemandirian dan kreativitas guru/siswa dalam Do It Yourself (DIY)
Berfikir dan belajar untuk diri sendiri

Jim Groom mengartikan hal ini sebagai upaya perlawanan terhadap komersialisasi LMS (Learning Management System) yang berharga sangat mahal di lingkungan tempatnya mengajar, yang menggunakan Blackboard sebagai LMS-nya dengan cara menggali kreativitas dengan memanfaatkan tool-tool web 2.0 gratis serta teknologi Open Source yang tersebar di jagad maya seperti Wikipedia, Blog, dan lainnya.

Semangat berkreatif dan mandiri seperti halnya sikap Do It Yourself inilah yang harusnya tertanam dalam benak para pengajar modern kita. Lewat berbagai keterbatasan yang ada mereka haruslah menjadi kreatif untuk mendapatkan solusi untuk tetap mengintegrasikan teknologi informasi dalam ruang kelas lewat cara yang murah dan mudah untuk dilakukan oleh siapapun.

Kata ini bukan berarti mengada-adakan istilah baru dari sesuatu yang telah ada. Bagaimanapun juga pola dan sikap kemandirian dan kreativitas ini telah ada sebelumnya (mengingat banyak pula yang tidak menyukai istilah ini). Namun ketika melihat kata ini, asyik juga untuk mengulasnya dalam blog ini. Thanks to Jim Groom as “The Edupunk Poster Boy!”.

Membuat Interactive Whiteboard Sendiri (Bagian 1), Mencari dan Mengeksplorasi Wii Remote (Wiimote)


WiimoteUntuk memulai bereksperimen membuat Interactive Whiteboard, saya membutuhkan berbagai peralatan seperti Wii Remote atau Wiimote, IR (Infra Red) Pen, aplikasi kalibrasi layar (Wiimote Whiteboard v2.0 buatan Johnny Lee) dan Tripod Kamera sebagai tempat meletakkan Wiimote. Perangkat yang pertama kali saya cari adalah Wii Remote (Wiimote), yaitu sejenis remote control, aksesoris dari mesin game Nintendo Wii. Untuk mendapatkan ini saya memanfaatkan search engine Google di Internet. Beruntung ada sebuah webstore yang menjual peralatan game yang menjual perangkat ini, nilai lebihnya adalah posisi toko offline-nya ada di Semarang, Jawa Tengah.

Baca lebih lanjut

Eksperimen Membuat Smart Board Sendiri, Cara Murah Memiliki Interactive Whiteboard


Interactive WhiteboardMasih ingat dengan tulisan saya “Inspiring Technology in Education : Smart Board”? Sudah lebih dari 2 (dua) bulan ini saya begitu terinspirasi untuk memperoleh informasi yang banyak mengenai teknologi Interactive Whiteboard tersebut, syukur sih bisa memiliki, ya kalo ngga mampu (ngga punya uang untuk beli) mencobanya saja sudah lebih dari cukup :). Saya kaget setelah mengetahui harga Interactive Whiteboard seperti Smart Board ini harganya sangat mahal, lebih dari Rp. 30.000.000. Yah, kalo segini harganya mana mungkin diterapkan di sekolah-sekolah? padahal teknologi ini sangat menginspirasi. Yang ada di benak saya sekarang adalah, kalau teknologi ini diterapkan di sekolah, dengan didukung desain pembelajaran yang bagus, pasti siswa akan lebih aktif dan kreatif.

Baca lebih lanjut