Arsip Tag: PAKEMATIK

Ternyata PAKEMATIK Diteliti oleh Mahasiswa UPI Lho!


Perjuangan sebuah tulisan tidak hanya terhenti ketika orang membaca dan terinspirasi, tetapi perjuangannya berhasil ketika terjadi perubahan nyata karena tulisan tersebut – Winastwan Gora

Pada saat surfing di Google siang tadi saya menemukan beberapa tulisan dari orang lain terkait dengan PAKEMATIK (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi), sebuah buku yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu bersama sahabat saya Pak Sunarto. Saya sangat senang karena ada pihak yang telah melakukan penelitian terhadap impact dari PAKEMATIK di dalam kelas nyata. Baca lebih lanjut

Iklan

Memikirkan TIK untuk Sekolah di Wilayah Terpencil


Para siswa di daerah terpencil harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengalaman belajar yang kaya dengan pemanfaatan TIK meskipun terbatas, agar mereka memiliki keterampilan untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berbagi pengetahuan kepada 130 an kepala sekolah SD-SMP Satu Atap dari seluruh Indonesia dalam acara lokakarya Bimbingan Teknis Sekolah Satu Atap yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Acara lokakarya satu hari yang diadakan di Hotel Grand Permata Bandung ini bagi saya sangat menarik, mengapa? Ayo simak tulisan selanjutnya. Baca lebih lanjut

Mengenal Berbagai Contoh Soal Evaluasi Obyektif yang Dapat Dibuat dalam Microsoft PowerPoint dan Mouse Mischief


Slide Quiz dalam Microsoft Mouse Mischief

Rekan pendidik inovatif, Anda tentu telah mengenal aplikasi Mouse Mischief lewat beberapa tulisan saya di dalam blog ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa aplikasi Microsoft Mouse Mischief dapat dimanfaatkan oleh rekan guru inovatif untuk melakukan evaluasi kepada siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Nah kali ini saya akan mengulas tentang berbagai model pertanyaan yang dapat dibuat menggunakan aplikasi ini.

Secara default, Microsoft Mouse Mischief menyediakan 3 (tiga) model soal obyektif, yaitu Benar/Salah (True/False), pilihan ganda (Multiple Choice) dan soal menggambar. Dua model pertama mungkin Anda sangat familiar. Nah, dengan model soal ketiga (menggambar) Anda dapat lebih kreatif dalam membuat pertanyaan. Pandangan saya, model soal inilah yang sangat menantang untuk dieksplorasi lebih jauh untuk membuat pertanyaan evaluasi.

Dengan soal menggambar inilah kita dapat membuat soal menjodohkan, mengklasifikasikan, mewarnai, dan mengurutkan. Nah, di dalam slide presentasi berikut ini disajikan berbagai contoh soal yang dapat memberi kita inspirasi. Soal-soal yang disajikan merepresentasikan dari berbagai model pertanyaan yang disediakan aplikasi Microsoft Mouse Mischief. Slide presentasi ini dikembangkan oleh saya dan Carwoto, untuk disajikan dalam event National Workshop and Seminar on Education Technology 2011 di Semarang, Jawa Tengah.

Lihat slide presentasi “Berbagai Model Kuis Microsoft Mouse Mischief”

Buku PAKEMATIK Akhirnya Terbit Juga!


Cover Depan Buku PAKEMATIK

Setelah mencurahkan pikiran dan tenaga selama lebih dari setahun untuk menulis dan mendokumentasikan semua ide, akhirnya buku PAKEMATIK, Strategi Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK terbit juga di pasaran. Buku yang saya tulis bersama Bapak Sunarto, S.Pd, M.Pd, yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo ini memang secara khusus membahas tentang bagaimana Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses Pembelajaran Aktif (Active Learning) di dalam kelas.

Buku ini sebenarnya merupakan rangkuman tentang apa yang saya kerjakan selama kurun waktu beberapa tahun ini bersama proyek pendidikan dasar terdesentralisasi yang didanai oleh USAID. Terdapat beberapa hal menarik yang menarik untuk ditulis, diperkaya dan disebarluaskan, sehingga para Guru mendapatkan sebuah pandangan yang utuh mengenai pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam mendukung terciptanya pembelajaran aktif.

Buku ini juga menjawab tantangan yang telah disebutkan dalam Permendiknas Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah di dalam Bab II. Standar Penyelenggaraan, Bagian Ketiga mengenai Standar Penyelenggaraan, dalam Pasal 5 Ayat 2 menyebutkan bahwa “Proses pembelajaran sebagaimana dimaksud ayat (1) menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan kontekstual. Dimana lewat buku ini para Guru dapat memperoleh wawasan mengenai implementasi dari Permendiknas tersebut. Baca lebih lanjut

Manakah Jumlah Komputer yang Efektif untuk Siswa? Satu Komputer untuk Satu Siswa atau Satu Komputer untuk Beberapa Siswa?


Terdapat banyak pandangan mengenai berapa banyak komputer yang harus disediakan di dalam kelas untuk pembelajaran yang efektif. Beberapa pihak menyatakan bahwa pemanfaatan satu buah komputer untuk satu orang siswa lebih efektif, namun ada pula yang menyatakan penggunaan satu buah komputer untuk beberapa siswa jauh lebih efektif. Namun demikian pendapat tersebut perlu kita telisik lebih jauh.

Dari segi biaya penyediaan satu komputer untuk satu siswa membutuhkan biaya yang lebih besar dimana akan lebih banyak komputer yang harus dibeli oleh sekolah. Penggunaan satu komputer untuk satu siswa sangat efektif untuk mengajarkan keterampilan software kepada siswa, dimana siswa punya kesempatan mencoba lebih besar karena tidak harus berbagi dengan siswa lainnya. Apabila sekolah memiliki anggaran yang terbatas untuk pengadaan komputer, mereka dapat menyediakan beberapa komputer saja, misalnya saja dengan rasio 1 : 4, dimana satu buah komputer akan digunakan oleh 4 (empat) orang anak dalam satu kelas. Dengan seperti ini tentu saja akan lebih efisien dari segi biaya. Sebenarnya dengan penggunaan satu buah komputer untuk beberapa orang siswa akan melatih para siswa tersebut untuk bekerja dalam kelompok, berempati dan berkesempatan untuk belajar dari rekan sejawatnya (peer teaching).

Baca lebih lanjut

Penggunaan Teknologi VS Integrasi Teknologi


Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam kelas

Pemanfaatan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia seringkali hanya digunakan untuk membantu kegiatan administrasi di sekolah saja, tak ubahnya menggantikan mesin ketik konvensional. Bahkan banyak pula sekolah-sekolah maju, yang memiliki laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai, hanya memanfaatkan perangkat TIK yang ada untuk mengajarkan keterampilan teknologi informasi saja seperti pelatihan Internet, perangkat perkantoran kepada para siswanya, tak ubahnya seperti kelas kursus komputer pada umumnya.

Seharusnya perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kurikulum yang ada. Penggunaan teknologi berbeda dengan maksud dari Integrasi Teknologi. Kegiatan mengajarkan penggunaan teknologi seperti kegiatan diatas, sangat berbeda dengan kegiatan Integrasi Teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Integrasi teknologi adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam wilayah konten secara umum dalam pendidikan untuk memungkinkan mereka belajar keterampilan komputer dan teknologi. Secara umum, kurikulumlah yang mengendalikan penggunaan teknologi bukan sebaliknya (Edutopia, 2008).

The International Society for Technology in Education (ISTE) telah membuat standar teknologi untuk siswa, guru dan pengelola kelas dasar (K-12) di Amerika. ISTE, merupakan pemimpin dalam membantu guru-guru disana menjadi pengguna teknologi yang efektif, mereka berpendapat bahwa “Integrasi kurikulum dengan pemanfaatan teknologi melibatkan infusi dari teknologi sebagai perangkat untuk meningkatkan pembelajaran dalam sebuah wilayah konten atau dalam setting multi-disiplin… Integrasi teknologi yang efektif akan tercapai ketika siswa mampu untuk memilih perangkat teknologi untuk membantu mereka memperoleh informasi dengan cara yang tepat, melakukan analisa dan sintesa informasi, serta menyajikannya secara profesional“. Teknologi harus menjadi sebuah bagian integral dari fungsi kelas seperti perangkat pengajaran lain yang mudah untuk diakses. Fokusnya adalah pada setiap pelajaran, bukan teknologinya (NETS, 2008).

Konstruktivisme merupakan komponen terpenting dari integrasi teknologi. Konstruktivisme merupakan suatu pandangan mengenai bagaimana seorang belajar, yaitu menjelaskan bagaimana manusia membangun pemahaman dan pengetahuannya mengenai dunia sekitarnya melalui pengenalan terhadap benda-benda di sekitarnya yang direfleksikan melalui pengalamannya (Piaget, 1967). Untuk mengimplementasikan konstruktifisme di dalam kelas, guru harus berkeyakinan bahwa peserta didik ketika datang ke kelas otaknya tidak kosong dengan pengetahuan. Mereka datang kedalam situasi belajar dengan pengetahuan, gagasan, dan pemahaman yang sudah ada dalam pikiran mereka. Jika sesuai, pengetahuan awal inilah yang merupakan materi dasar untuk pengetahuan baru yang akan mereka kembangkan.

Baca lebih lanjut