Memikirkan TIK untuk Sekolah di Wilayah Terpencil


Para siswa di daerah terpencil harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengalaman belajar yang kaya dengan pemanfaatan TIK meskipun terbatas, agar mereka memiliki keterampilan untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berbagi pengetahuan kepada 130 an kepala sekolah SD-SMP Satu Atap dari seluruh Indonesia dalam acara lokakarya Bimbingan Teknis Sekolah Satu Atap yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Acara lokakarya satu hari yang diadakan di Hotel Grand Permata Bandung ini bagi saya sangat menarik, mengapa? Ayo simak tulisan selanjutnya.

Anda mungkin harus mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu sekolah satu atap disini. Ya, sekolah ini memang masih penuh keterbatasan, boro-boro ngomong tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi, listrik saja kadang ada kadang tidak🙂. Belum lagi bicara tentang keterbatasan sumber daya manusia (guru) di sekolah ini, karena kebanyakan hanya memanfaatkan masyarakat sebagai tenaga pendidik dengan keterampilan mengajar yang seadanya. Karena itulah ajang ini menjadi tantangan bagi saya untuk dapat membuka wawasan para kepala sekolah tentang inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan TIK serta keterampilan abad ke-21 dibalik semua keterbatasan yang ada.

Dibalik semua keterbatasan yang ada, SD SMP satu atap yang dilaksanakan untuk membantu siswa SD di daerah pelosok dan terpencil yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena tidak adanya SMP di daerah tersebut tetaplah sebuah sekolah yang memiliki misi mulia dan memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak generasi-generasi unggul dari pelosok Indonesia.

Siswa-siswi sekolah satu atap tetap harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dibalik semua keterbatasan yang ada. Berkualitas bukan dalam artian fasilitas yang cukup atau sarana prasarana yang memadai, namun lebih dari kualitas pengajaran. Berbagai keterampilan abad ke-21 seperti keterampilan pemecahan masalah, inovasi, komunikasi efektif, kerjasama, kemandirian, literasi media dan informasi, wawasan global, tanggung jawab sosial dan berpikir kritis harus mereka dapatkan agar mampu bersaing kelak di masa depan yang begitu kompleks.

Pemanfaatan TIK di kelas untuk memberi para siswa pengalaman belajar yang kaya juga perlu “diupayakan”. Hal ini tidak wajib namun perlu, karena para siswa butuh wawasan tentang bagaimana teknologi dapat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di dunia nyata, yang saat ini menjadi tumpuan dalam dunia kerja. Pemanfaatan TIK secara sederhana di kelas dapat dimulai dengan menggunakan satu buah komputer (milik guru atau sekolah) dan LCD Proyektor dalam pembelajaran apapun, namun bukan dengan pelatihan keterampilan TIK seperti kursus komputer yang khusus mengajarkan keterampilan komputer namun aktifitasnya terintegrasi dalam semua mata pelajaran.

Pemanfaatan satu komputer di kelas seperti ini bukan hanya menjadikan komputer sebagai alat presentasi, namun digunakan pula sebagai media kreasi, pengolah data, dan fungsi lain oleh para siswa bukan hanya oleh guru (silahkan baca buku saya tentang PAKEMATIK). Kuncinya memang ada di kreativitas guru sebagai sutradara pembelajaran, nah bagaimana jika para guru belum memiliki keterampilan mengajar dengan TIK? tentunya mereka perlu mengikuti program pengembangan profesional untuk menunjang hal tersebut (misalnya dengan mengikuti program pelatihan Intel Teach dari Intel Education Indonesia).

Lantas bagaimanakah perangkat TIK yang sesuai untuk digunakan dalam kelas dengan keterbatasan listrik dengan kondisi latar belakang keterampilan TIK yang minim? tentu guru dan sekolah harus memikirkan perangkat komputasi yang hemat daya, tangguh namun murah dalam pembiayaan serta harga. Penggunaan laptop sangat disarankan, juga penggunaan mini LCD proyektor dengan teknologi LED karena teknologi ini lebih hemat daya listrik dibandingkan LCD proyektor konvensional. Selain itu, sebaiknya sekolah memiliki sumber listrik mandiri (seperti pembangkit listrik tenaga surya) jika dimungkinkan agar proses pembelajaran TIK dapat terlaksana meskipun terjadi pemadaman listrik.

Dalam lokakarya ini saya juga mendemokan beberapa cara pemanfaatan TIK terbatas di kelas seperti kuis interaktif dengan MS. PowerPoint dan Microsoft MouseMischief yang memungkinkan seluruh kelas berkesempatan mengakses satu komputer guru di kelas dalam evaluasi pembelajaran. Meski dengan demo sederhana, nampaknya banyak pula peserta yang tertarik untuk menerapkan teknologi ini di kelas, terbukti dengan banyaknya peserta yang bertanya dan meminta soft copy software ini. Semoga kegiatan ini bermanfaat!

Tagged: , , , , , , , , ,

5 thoughts on “Memikirkan TIK untuk Sekolah di Wilayah Terpencil

  1. Martua Manik Oktober 5, 2012 pukul 3:04 am Reply

    Trimakasih bos akan dipelajari dan di implementasikan selalu, bantu terus pendidikan di daerah terpencil tapi jangan lupa juga yang sudah tidak terpencil .

  2. sunarto Oktober 6, 2012 pukul 10:15 am Reply

    Hebat Pak Gora. Dari jauh aku selalu mendukungmu.

  3. taufikibrahim Desember 7, 2012 pukul 7:11 am Reply

    Salut Buat Pak Gora yang gigih meng;ICT Literate-kan banyak guru di Indonesia! Salam hangat dari saya di Kota Depok yang sejak lama mengikuti terus perkembangan TIK melalui artikel Pak Gora. Salam !🙂

  4. Pujo Cahyono Maret 13, 2013 pukul 12:29 pm Reply

    Bagus artikel ini
    Saya pernah berkunjung di daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Timur. Sungguh sangat memprihatinkan sekali. Karena ada sekolah, jangankan teknologi, sekolah masih seperti kandang binatang, mungkin bagus kandang binatang, dan sempat saya ambil gambar dengan camera saya, video itu masih saya simpan.

  5. gora Maret 13, 2013 pukul 6:03 pm Reply

    @Pak Pujo : begitulah kenyataannya pak. Semoga cepat terjadi pemerataan agar gap teknologi semakin sempit dan kesempatan memperoleh informasi dapat dirasakan pula oleh warga di lokasi terpencil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: