Arsip Tag: pendidikan dasar

Menikmati Sajian M-Learning Ala M-Edukasi.Net


Tampilan Portal M-Edukasi.Net dalam Layar Handphone

M-Learning atau Mobile Learning atau pembelajaran yang memanfaatkan piranti mobile (handphone, laptop, PDA, dll) memang cenderung baru di Indonesia. Setidaknya sudah ada beberapa pihak yang telah mengembangkan hal ini sebagai inovasi dalam pembelajaran, sebut saja P4TK Matematika dengan berbagai aplikasi mobile untuk pembelajaran matematikanya. Beberapa lagi mungkin belum banyak terdengar di publik karena masih dalam taraf penelitian dan pengembangan.

Nah, saat ini telah hadir satu lagi karya inovatif anak bangsa, sebuah karya M-Learning dari Balai Pengembangan Multimedia Pustekkom Depdiknas yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Institusi ini mengembangkan M-Learning dengan spesifik pada pengembangan konten bahan ajar pembelajaran multimedia berbasis Flash Lite, sebuah platform pengembangan aplikasi mobile berbasis Adobe Flash. Meski platform aplikasi Flash Lite belum begitu marak, karena tidak semua handphone dilengkapi dengan fitur ini, namun sebagai langkah inovatif, sumbangsih dan usaha ini perlu diacungi jempol.

Baca lebih lanjut

Iklan

Cerita dari Intel Asia Senior Trainer Summit 2009 Vietnam


Bersama Para Pemateri dari Intel Education (Rattan Saleem, Agnes Nathan dan Teressa Maves)

Bersama Para Pemateri dari Intel Education (Rattan Saleem, Agnes Nathan dan Teressa Maves)

Pada tanggal 15-19 Juni 2009 saya berkesempatan mengikuti acara Intel Asia Senior Trainer Summit 2009 yang diselenggarakan oleh Intel Education Asia. Acara pertemuan para Senior Trainer dari seluruh negara di Asia yang dilaksanakan setiap tahun ini, kali ini diselenggarakan di Ho Chi Minh City, Vietnam tepatnya di Saigon Palace Hotel. Acara ini merupakan Intel Asia Senior Trainer Summit pertama kali yang pernah saya hadiri semenjak menjadi Senior Trainer pada program IntelTeach baik untuk pelatihan Getting Started ataupun Essentials Course.

Beberapa negara yang turut serta dalam pertemuan ini antara lain, Indonesia, Vietnam (sebagai tuan rumah), Malaysia, Filipina, Kamboja, India, Pakistan, Korea, China, Taiwan, Thailand dan Australia. Dari Indonesia, kami hadir berlima yaitu Brimy Laksmana (Education Manager, Intel Education Indonesia), Agnito Moningka, Popo Ronald Alexander, Arif Nugraha dan saya sendiri Winastwan Gora.

Mengapa acara tersebut begitu menarik? Selama pertemuan ini, kami mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru seputar strategi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses pembelajaran. Di hari pertama, kami diperkenalkan dengan produk Intel Teach Elements, yaitu modul-modul materi yang spesifik membahas tentang elemen dari kursus Intel Teach. Elemen yang diajarkan dan diperkenalkan ke kami kali ini adalah tentang PBL (Project Based Learning). Dalam sesi ini kami mempelajari dasar PBL dengan metode Jigsaw learning untuk mempercepat pemahaman peserta pelatihan tentang PBL ini.

Baca lebih lanjut

Penerapan E-Learning di Sekolah, Tidak Sekedar Pengembangan dan Implementasi Teknologi


ictE-Learning atau electronic learning memang telah menjadi tren pada beberapa tahun terakhir. Banyak sekolah dan universitas di Indonesia mengadopsi sistem pembelajaran ini di lingkungannya. Namun, banyak pihak merasa bahwa teknologi ini masih jauh untuk bisa diterapkan secara optimal di Indonesia, mengingat banyak keterbatasan yang ada.

Untuk mendukung penerapan e-Learning di sekolah, banyak sekali hal yang perlu dilakukan. Pengadaan infrastruktur server dan jaringan komputer serta penyediaan Learning Management System (LMS) sebagai ruang kelas virtual tempat berinteraksinya siswa dan pembelajar (fasilitator/guru/dosen) seringkali menjadi fokus utama dari implementasi e-learning.

Biasanya setelah infrastruktur dibangun dan ruang kelas online tersedia, maka dilaksanakanlah pelatihan dan sosialisasi dari sistem yang baru saja dibangun. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dsb.

Hadir dalam pelatihan tersebut dosen yang memiliki paradigma “lama” yang resisten terhadap perkembangan teknologi dan dosen yang berparadigma “baru” yang sangat tertarik dengan perkembangan teknologi. Dosen berparadigma lama menganggap bahwa mereka sudah tidak memiliki waktu lagi selain di kelas tatap muka, untuk melakukan hal-hal tambahan seperti belajar teknologi baru, membuka ruang kelas virtual untuk menjawab pertanyaan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan dosen berparadigma baru akan memberikan respon yang kuat, mereka sangat tertarik untuk dapat secepatnya menerapkan di kelasnya, dan mereka sangat antusias untuk mempelajari hal-hal baru.

Hal tersebut diatas adalah hal yang lazim kita temui di Indonesia, dimana inovasi penerapan teknologi pendidikan sangat lamban terjadi. Keadaan ini memang harus dimaklumi mengingat kendala pemerataan teknologi dan minimnya dukungan pemerintah terhadap inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun perlu diberikan penekanan, bahwa konsep dasar e-Learning adalah “pedagogi yang diperkuat oleh teknologi” (Wikipedia, 2009), sehingga guru harus berfikir tentang banyak aspek dari pedagogi dibanding kepada sisi teknologi saja. Artinya, guru haruslah memikirkan berbagai strategi pembelajaran agar efektif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan fokus mengajarkan teknologi baru ini kepada para siswanya. Karena teknologi disini hanyalah sebagai “alat bantu” untuk mendukung tujuan pembelajaran itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Ulang Tahun Pertama Blog ApaKabar PSBG


Ulang Tahun Pertama Blog ApaKabar PSBG

Ulang Tahun Pertama Blog ApaKabar PSBG

Tak terasa sudah setahun Blog ApaKabar PSBG eksis. Pada awal kelahirannya, tepat tanggal 19 Desember 2007 blog ini sengaja dikhususkan untuk menjembatani informasi dari PSBG (Pusat Sumber Belajar Gugus) yang ada di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia, selain itu blog ini juga menyediakan informasi-informasi yang bersifat umum, yang berhubungan dengan pendidikan dasar.

Berawal menggunakan mailing list, para penggiat ICT di program DBE2 mendorong saya untuk membuat blog ini. Namun waktu itu kita masih belum menentukan namanya, beruntung sebuah nama bagus dihadiahkan oleh Bapak Dr. Arief S. Sadiman selaku Open University Advisor DBE2 Jakarta, nama tersebut adalah ApaKabar PSBG yang merupakan sapaan buat PSBG di seluruh Indonesia, Apa Kabar PSBG?.

Baca lebih lanjut

Penghargaan Untuk Para Penggiat Blog ApaKabar PSBG


Penghargaan Penggiat Blog ApaKabar PSBG

Dalam acara PSBG Award, sebuah acara yang mengkompetisikan kreativitas PSBG yang ada di Indonesia dilangsungkan pula penyerahan penghargaan untuk para penggiat blog ApaKabar PSBG. Pemberian penghargaan tersebut dilakukan untuk mengapresiasi kerja keras para guru yang telah mendedikasikan diri, aktif mengirimkan tulisan dalam blog pendidikan ini.

Tiga orang yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah saya, Winastwan Gora (Education Technology Officer DBE2 Jakarta) yang telah membuat dan mengembangkan blog ini, kemudian Bapak Sunarto (District Learning Coordinator DBE2 Jawa Tengah) dan Amir Mallarangan (District Learning Coordinator DBE2 Sulawesi Selatan) yang waktu itu diwakili oleh seorang Ibu Master Teacher Trainer DBE2 Sulawesi Selatan karena beliau berhalangan hadir.

Baca lebih lanjut

Pojok BSE, Upaya Memasyarakatkan Buku Sekolah Elektronik


Pojok BSEBuku Sekolah Elektronik (BSE) merupakan terobosan jitu dari pemerintah untuk menyediakan buku teks berkualitas dengan harga murah. Namun saat ini niatan baik pemerintah tersebut tampaknya kurang tersosialisasikan, sehingga belum banyak pihak yang dapat merasakan manfaatnya. Kondisi ini diperparah oleh kesiapan penguasaan ketrampilan dan sarana prasarana TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang tersedia di lingkungan sekolah.

Banyak pihak yang mengkritik pemerintah habis-habisan mengenai program ini tanpa memberikan solusi berarti. Setiap kritikan yang munculpun menjadi berita panas di setiap surat kabar. Namun lewat tulisan ini, program DBE2 diharapkan dapat membantu pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk mendapatkan inspirasi dalam mensosialisasikan BSE ke tengah masyarakat agar dapat dinikmati manfaatnya oleh guru dan siswa.

Lahirnya PSBG (Pusat Sumber Belajar Gugus) sebagai poin akses komunitas dapat dimanfaatkan sebagai media sosialisasi BSE. DBE2 mencoba membuat prototipe pemanfaatan BSE di sudut ruangan PSBG yang diberi nama “Pojok BSE”. Pojok BSE merupakan fasilitas perpustakaan digital (digital library) yang menyediakan koleksi BSE yang dikemas dalam kepingan CD (Compact Disc). Guru dan siswa dapat mengakses berbagai buku yang tersedia, dari kelas I – VI menggunakan komputer yang ada di PSBG. Mereka dapat membuka e-book tersebut, mencetaknya, menggandakan CD tersebut, hingga meminjam CD yang tersedia untuk dapat dibaca menggunakan komputer di rumah.

Baca lebih lanjut

Melihat Keberhasilan Program Intel Classmate PC di SDN 03 Menteng Jakarta


CMPC in classroom

Pagi itu, hari Jumat tanggal 19 September 2008 saya bersama dua orang teman dari DBE2 USAID berangkat ke SD Negeri 03 Menteng. Pagi itu kami telah membuat janji dengan pihak sekolah untuk melakukan kunjungan dan melihat dari dekat penerapan program Intel Classmate PC (CMPC) dari Intel Indonesia. SDN 03 Menteng yang juga disebut sebagai SD Venezuela (karena bekerjasama dengan pemerintah Venezuela) merupakan salah satu sekolah percontohan untuk penerapan program ini di Indonesia.

Tepat jam 08.30 kami sampai di sekolah. Kami disambut ramah oleh Kepala Sekolah Sugimin, S.Pd, selain itu hadir pula dari pihak Intel Education, sebagai narasumber kami nantinya, Mas Brimy Laksmana (Program Manager Intel Education), Pak Agnito Moningka (Senior Trainer Intel Education) dan Pak Arya (Intel Indonesia). Setelah berkenalan, kami langsung diajak ke ruang kelas untuk melihat secara langsung penerapan Intel Classmate PC (CMPC) di kelas. Hadir pula untuk tujuan yang sama teman-teman dari Sampoerna Foundation dan World Vision Indonesia (WVI).

Ketika pertama kali membuka pintu kelas, saya melihat salah satu sudut ruangan dimana terdapat sebuah rak berisi banyak laptop CMPC, dan secara bergantian para siswa mulai mengambil laptop satu persatu. Guru kelas yang mengajar kali ini adalah Hari Pujianto, S.Pd, yang mengajar Kelas VI. Sedangkan mata pelajaran yang diajarkan kali ini adalah Ilmu Sosial. Kami mengamati dan melakukan observasi kelas di pinggir ruang kelas, dengan CMPC di hadapan kami. Kami ingin melihat seberapa hebatnya penggunaan CMPC di dalam kelas untuk mendukung proses pembelajaran.

Baca lebih lanjut