[Kelas Inspiratif] Melihat Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek di SDN Jetis 02 Gunung Kidul


Siswa Membandingkan Udara yang Bersih dengan Udara Kotor

Siswa Membandingkan Udara yang Bersih dengan Udara Kotor

Rekan-rekan pembaca blog ini tentu penasaran seperti apa sih penerapan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) di kelas sebenarnya. Sebagai contoh, saya menghadirkan sebuah hasil pendampingan berbasis sekolah yang dilakukan para Widyaiswara LPMP Yogyakarta (yang sebelumnya telah dilatih oleh Intel Education Indonesia) kepada guru-guru di SDN Jetis 02 Gunung Kidul, Yogyakarta di Tahun 2010. Meski kegiatan ini sudah lama dilakukan, dengan ulasan ini harapannya mampu memberikan gambaran bagaimana kegiatan pembelajaran tematik dan kontekstual dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran bertema “Lingkunganku Kotor, Paru-Paruku Bocor”, untuk mata pelajaran utama Ilmu Pengetahuan Alam ini mengajak para siswa untuk melakukan penelitian tentang alat pernafasan dan gangguan alat pernafasan yang disebabkan oleh pencemaran udara yang ada di lingkungan sekitar mereka. Langkah-langkah pembelajaran dijelaskan secara detail dalam ulasan berikut.

Pelajaran yang dilaksanakan selama 4 (empat) kali pertemuan selama 1 (satu) bulan, dengan pelaksanaan dua kali pertemuan di dalam kelas dan dua kali pertemuan di luar kelas.

Pertemuan pertama (pagi hari) 2X35 menit

  1. Penjelasan proyek, pembagian kelompok dan penyusunan jadwal kegiatan dengan bimbingan guru.
  2. Penjelasan materi melalui LCD oleh guru.
  3. Mengidentifikasi hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada organ pernafasan yaitu polusi udara yang disebabkan oleh bau kotoran ternak, bau limbah keluarga, asap kendaraan bermotor, asap pembakaran sampah dan debu pada musim kemarau.

Pertemuan kedua (sore hari) 2X35 menit

  1. Melakukan pengamatan ke kandang ternak, jalan raya, limbah keluarga untuk mengetahui penyebab polusi udara yang dapat menimbulkan penyakit pernafasan. Setiap kelompok melakukan penelitian atau pengujian.
  2. Membandingkan perbedaan bernafas pada udara yang tercemar (kotor) dan udara yang sejuk (bersih)
  3. Siswa melakukan wawancara dengan petugas Puskesmas dan Ketua RT tentang kesehatan lingkungan kaitannya dengan penyakit alat pernafasan manusia.
  4. Siswa melakukan diskusi dari hasil pengamatan dan wawancara.

Pertemuan ketiga (sore hari) 2X35 menit

  1. Siswa mempresentasikan hasil proyeknya di depan bapak/ibu guru serta semua siswa SD Jetis II, dengan alat papan panel.
  2. Siswa mempublikasikan hasil penelitian melalui majalah dinding.
  3. Siswa membuat rekomendasi ke Pemerintah setempat untuk mengatur tata lingkungan.

Sebagai kegiatan tindak lanjut siswa menerapkan hasil penelitian dalam kehidupan sehari-hari untuk membiasakan diri hidup sehat.

Dokumentasi kegiatan pembelajaran tersebut dapat disaksikan dalam galeri foto dibawah.

Bisa dibayangkan apabila siswa-siswi kita dibudayakan sejak kecil untuk melakukan penelitian, wawancara, investigasi, bekerjasama, membuat tulisan dan melakukan presentasi serta publikasi, maka mereka akan terbiasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang saat ini kita lakukan dan gunakan dalam dunia kerja.

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: