Alasan Mengapa Pengajar Menjauhi E-Learning


Tulisan ini sebenarnya merupakan curhat saya sebagai praktisi e-Learning sekaligus sebagai fasiliator dalam beberapa kelas online. Menjadi fasilitator online memang tidak segampang yang dibayangkan. Orang mungkin berfikir bahwa teknologi akan meringankan pekerjaan kita. Tetapi kenyataan berkata lain, pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung penyelenggaraan kelas jauh justru tidak akan meringankan pekerjaan Anda sebagai fasilitator. Lho kok bisa? Pasti Anda akan bertanya seperti itu🙂.

Sebagai fakta, ketika saya melakukan fasilitasi jarak jauh dengan para peserta, misalnya dalam pengerjaan tugas proyek misalnya, atau berdiskusi tentang sebuah topik diskusi di dalam forum diskusi, maka kita harus mengeluarkan effort lebih untuk menanggapi setiap pertanyaan yang ada. Dan jawabannya pun harus disesuaikan dengan konteks permasalahan pribadi peserta masing-masing, jadi lebih bersifat personal dan kita tidak bisa melakukan generalisasi, karena hasilnya tentu saja akan berbeda untuk setiap individunya. Biasanya, para peserta kursus yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha menggali informasi lebih banyak dari fasilitator.

Saya sendiri merasakan, di hari-hari kerja, handphone saya akan selalu berbunyi, entah telepon atau SMS. Ternyata banyak dari peserta didik yang menanyakan tugas, menanyakan solusi bagaimana melakukan hal ini dan itu, serta memberikan konfirmasi bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan tugas tepat wakti karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalnkan (maklum saja, peserta kursus jarak jauh saya kesemuanya adalah dosen yang punya tanggung jawab mengajar pula).

Disamping itu dalam ruang kelas online, mereka harus pula menyediakan bahan ajar yang lengkap di setiap sesinya. Dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar lebih cepat daripada pembelajaran di dalam kelas tatap mukanya. Selain itu, mereka juga dituntut untuk mengembangkan berbagai media ajar non cetak, jadi tidak hanya e-book dalam format PDF atau file presentasi saja yang mereka sajikan, namun lebih dari itu, mereka harus pula menyajikan bahan ajar multimedia lainnya sepeti video atau animasi interaktif.

Namun demikian, jika kita berfikir tentang kualitas hasil belajar maka hal seperti ini sebenarnya merupakan pertanda baik dimana kita dapat memberikan sentuhan dan dukungan yang lebih banyak kepada mereka untuk sukses mengikuti pembelajaran yang ada, untuk mencapai tujuan utama pembelajaran. Namun akan sangat berbeda jika ini dilihat dari pandangan dosen/pengajar yang tidak memiliki wawasan maju, malas, tidak siap secara materi dan terlalu sibuk. Mereka akan menganggap hal seperti ini akan merepotkan mereka, menambah pekerjaan dan sebagainya.

Dari ungkapan diatas, jelas sudah bahwa e-Learning sebenarnya hanya cocok bagi dosen-dosen berwawasan maju, berpandangan luas, memiliki kepedulian terhadap kualitas lulusan mereka, dan ingin memberikan layanan terbaik pada setiap pembelajaran yang mereka ampu. Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti mereka yang akan melaksanakan e-Learning di institusinya, namun lebih jauh dari itu, tulisan ini sebenarnya lebih kepada mengajak para dosen/pengakar untuk merubah paradigma mereka terlebih dahulu sebelum dapat menjadi fasilitator pembelajaran jarak jauh yang handal.

Tagged: , , , ,

5 thoughts on “Alasan Mengapa Pengajar Menjauhi E-Learning

  1. […] oleh : Winastwan Gora (Founder/Direktur EduPartner Consulting) Sumber asli : https://gora.wordpress.com/2010/06/05/alasan-mengapa-pengajar-menjauhi-e-learning/#more-658 Posted in Artikel Tags: distance learning, e-learning, ICT, integrasi teknologi, online […]

  2. asmarie Juni 30, 2010 pukul 7:09 am Reply

    agak ribet juga ya ternyata,,,,

    mudahan semua guru itu berpikir maju kaya bapak

    tankz

    • syahkira Agustus 22, 2010 pukul 11:33 am Reply

      sedang mencoba, doakan bisa menjalankan pak
      mohon kritik dan sarannya pak
      btw salam kenal ya pak😉

  3. kodzan Agustus 23, 2010 pukul 1:18 pm Reply

    memang agak ribet…. tapi klo dosen2 indonesia gak memulainya dari sekarang, maka selamaya dosen indoensia yang gak akan maju2… cuma memberikan pelajaran face to face dengan memakai kapur di papan tulis! dari sini kita mesti pintar2 memanfaatkan teknologi. salam kenal!

  4. Ikhsan Agustus 30, 2010 pukul 7:48 am Reply

    setuju mas, salah satu faktor kegagalan elearning kayaknya SDM yang kurang siap. dan biasa sang peengajar itu sendiri. kalo masalah peserta didik bisa dipaksa dengan aturan dan paksaan bahwa “Harus melalui Elearning”.
    btw makasih info courselabnya bosan bajak terus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: