Sepertinya Negeri ini Membutuhkan Institut Angkat Tangan dan Tepuk Tangan


HandUp 

Agaknya negeri kita ini sangat membutuhkan berdirinya Institut Angkat Tangan dan Institut Tepuk Tangan. Mengapa saya mengangkat isu ini? Beberapa kali penulis menjadi pembimbing kerja praktek sekaligus menjadi observer ketika seminar kerja praktek. Biasanya di forum tersebut, moderator selalu memberikan waktu bertanya untuk para peserta seminar, namun banyak dari mereka yang ragu-ragu untuk mengangkat tangan dan bertanya, malahan seringkali kami harus menunggu agak lama untuk mendapatkan pertanyaan.

Sepertinya para mahasiswa peserta seminar kerja praktek tersebut masih terbelenggu dengan rasa malu dan kurang percaya dirinya, mereka tidak yakin bahwa hal yang akan ditanyakan itu penting… atau mereka justru tidak mengerti tentang apa yang diseminarkan (jadi mereka tidak tahu harus bertanya apa🙂 ). Yang ingin saya tekankan disini adalah, minimnya keberanian mahasiswa untuk mengungkapkan pendapat dan pertanyaan ke orang lain. Mungkin sedini mungkin hal ini perlu ditumbuh-kembangkan.

Tentang Institut Tepuk Tangan, uhhmm…. ide ini juga berdasar pengalaman pribadi saya ketika hadir beberapa kali di acara seminar, pelatihan dan sejenisnya. Ketika peserta lain telah berhasil menunjukkan/mendemokan sesuatu atau ketika peserta mengungkapkan ide yang menarik, jarang dari peserta lain memberikan tepuk tangan dengan yakin sebagai apresiasi positif. Tidak jarang peserta lain justru ogah-ogahan dalam bertepuk tangan. Tepuk tangan yang saya maksudkan disini adalah sebagai simbol apresiasi positif atas apa yang telah diberikan orang lain. Terkadang kita tidak pernah memberikan apresiasi positif kecuali kepada diri kita sendiri. Padahal apresiasi positif (tepuk tangan, sanjungan, ucapan terima kasih, dll) mampu membangkitkan semangat seseorang dan memacu mereka untuk berkarya lebih hebat lagi. Sebagai wujud penghargaan, tentu saja ini dapat menjadi lecutan bagi seseorang untuk dapat menghasilkan karya hebat berikutnya.

Keberanian untuk berpendapat, bertanya dan memberikan penghargaan nampaknya harus dibudidayakan di negeri ini. Ketika kita mengangkat tangan dan bertanya, sebenarnya inilah proses pembelajaran bagi peserta seminar yang lain, karena peserta lain akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan atas apa yang kita tanyakan dan dari jawaban yang diberikan oleh narasumber. Sharing knowledge inilah yang diharapkan dari forum yang ada. Begitu juga dengan tepuk tangan, penghargaan positif seperti ini akan memacu seseorang untuk maju dan menghasilkan karya hebat (asal tidak berlebihan…). Ayo siapa yang mau memberi donasi untuk mendirikan institut ini?… He…he..he..🙂

7 thoughts on “Sepertinya Negeri ini Membutuhkan Institut Angkat Tangan dan Tepuk Tangan

  1. Siva Mei 29, 2008 pukul 11:45 am Reply

    wah… kalau ini saya mau Pak…
    di kasih nama UNATTETA (Universitas Angkat Tangan dan Tepuk tangan) aja…

    masalahnya didalam diri kita belum tertanam kerasa ingin tahuan yang tinggi…
    ketika kita mau tanya… banyak alasan yang biasanya mengunrungkan niat untuk bertanya.. dari rasa gengsi, atau memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan, males, jama’ah cuek, kurang pede, dan mungkin ketika bertanya banyak dari forum yang tidak menghargai atas pertanyaannya, atau misal kalau banyak tanya, takut kalau dianggap cerewet ,dan sebagainya..

    demikian juga tepuk tangan..

    terus langkah awalnya apa ni Pak?////he 4..

  2. gora Mei 30, 2008 pukul 6:43 am Reply

    Caranya? Gampang sekali kok Mas, rubah aja semua yang sudah Anda sebut diatas tadi, seperti :

    belum tertanam kerasa ingin tahuan yang tinggi… ketika kita mau tanya… banyak alasan yang biasanya mengunrungkan niat untuk bertanya.. dari rasa gengsi, atau memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan, males, jama’ah cuek, kurang pede, dan mungkin ketika bertanya banyak dari forum yang tidak menghargai atas pertanyaannya, atau misal kalau banyak tanya, takut kalau dianggap cerewet ,dan sebagainya..

    usahakan untuk merubah hal diatas menjadi potensi untuk melejitkan potensi diri…. dijamin!🙂

  3. uwes Juni 2, 2008 pukul 4:43 pm Reply

    setuju…. kita semua terlatih untuk datang, duduk manis, dengar, catat, dan gak pernah dibiasakan untuk “burket” alias angkat tangan sejak SD, sampe perguruan tinggi ………..

  4. uwes Juni 2, 2008 pukul 4:46 pm Reply

    kalo ada waktu lihat tulisan saya, “Ketika mata pelajaran hanya menjadi tujuan” di http://fakultasluarkampus.net/?p=66

  5. Gora Juni 3, 2008 pukul 9:46 am Reply

    Wah trims Pak Uwes dah mau ngasih komentar, kalo bahas materi ini saya jadi teringat akan lagu yang sering kita (di Jawa) nyanyikan waktu masih duduk di SD dulu… Bgini lagunya… Siji Loro Telu (Satu Dua Tiga), Astane Sedeku (Tangan Bersedekap), Mirengake Bu Guru (Dengarkan Ibu Guru), Ora Pareng Ngguyu (Tidak Boleh Tertawa)… Ternyata dari dulu kita memang telah di setting oleh para guru kita untuk pasif dengan hanya mendengarkan dan diam..🙂

  6. agusampurno Juli 22, 2008 pukul 9:19 am Reply

    Dahsyat, mas Gora dah jadi guru sejati nih..
    Selain mengajarkan yang praktis, juga menyuburkan kebiasaan yang baik.

    Jika merapat ke Jakarta lagi
    Bilang-bilang ya

  7. Gora Juli 23, 2008 pukul 3:35 pm Reply

    Wah belum seperti itu mas…🙂 saya masih pemula, justru saya banyak belajar dari blog Anda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: