Kenapa Kami Harus Bermigrasi? Bikin Repot Aja!, UGOS (UNISSULA Goes Open Source) Mimpi Kali Yeeee….


Ya, ungkapan diatas memang sering menghinggapi pemikiran penulis ketika memutuskan berniat untuk mengusung gerakan UGOS (UNISSULA Goes Open Source) di lingkungan kampus tempat bekerja. Jangan-jangan karena ketidak-tahuan mereka, gerakan ini akan dicibir dan dimusuhi, dikirannya kami hanya cari sensasi dan kurang kerjaan. Ah, fikiran tersebut sebaiknya penulis singkirkan saja, mengingat banyak juga pihak yang mendukung setelah mendapat penjelasan dari penulis.

Sedikit gambaran mengenai kampus kami, kampus UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang didirikan oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung. Setiap tahunnya UNISSULA mendapat suntikan dana investasi puluhan juta rupiah untuk membayar lisensi sistem operasi dan beberapa aplikasi propertiary (dalam kerjasama Microsoft Campus Agreement – MSCA). Beberapa tahun yang lalu kami memutuskan untuk menjalin kerjasama ini dikarenakan keinginan dari pihak kampus untuk melegalkan sistem operasi dan aplikasi perkantoran yang dipakai oleh sebagian besar keluarga besar kampus ini. Bukan itu saja, harapan kami setelah menjalin kerjasama ini kami akan mendapatkan ”nilai lebih” atas aplikasi yang kami beli. Artinya pihak Microsoft akan mengadakan kegiatan-kegiatan yang akan meningkatkan pengetahuan pihak kampus akan aplikasi-aplikasi yang dibeli. Belum lagi keinginan kami untuk lebih dekat dengan team support Microsoft supaya mudah untuk mendapatkan dukungan teknis apabila mendapati kendala dalam aplikasi. Namun kesemua diatas itu hanyalah utopia belaka, tak ada nilai lebih, tak ada support (kami pun belum pernah menelepon Microsoft untuk meminta bantuan), kami hanyalah menerima kiriman CD-CD aplikasi saja, tidak lebih dari itu.

Sebenarnya gerakan UGOS (UNISSULA Goes Open Source) telah mulai kami gembar-gemborkan di awal tahun 2001, pada saat kami menggelar acara Saturday Linux Festival (waktu itu penulis masih menjadi mahasiswa dan aktif di Kelompok Studi Linux UNISSULA). Namun gerakan tersebut belum dapat berkesinambungan, mengingat tidak adanya sumber daya manusia yang bersedia dan konsen dalam gerakan ini. Saat ini, mimpi tersebut hampir menjadi kenyataan setelah setahun yang lalu komunitas DOS (Dakwah Open Source) terbentuk dengan dedengkotnya Andex Teddy dan M. Zamroni. Tetapi karena beberapa hal DOS v1.00 itu belum dapat aktif menyelenggarakan kegiatan. Baru sebulan yang lalu dibentuklah kembali DOS v2.00 dengan ketuanya Sam, yang sebagian besar para anggotanya berasal dari angkatan 2004-2005 Teknik Informatika UNISSULA. Barulah di DOS versi ini kami mencoba eksis dan menyelenggarakan kegiatan seperti yang dilakukan sekarang, yaitu membuat sebuah distribusi Linux, bernama SULAX (Sultan Agung Linux). Penulis sendiri dalam komunitas ini bertindak sebagai pembina, bersama rekan dosen Hud Munawar, ST, MT yang juga sama-sama lulusan dari Magister Teknologi Informasi UGM Yogyakarta.

Tidak butuh effort yang besar untuk mempromosikan komunitas DOS di kalangan mahasiswa. Kegiatan promosi akan rekrutmen anggota kami lakukan di kelas ketika penulis dan Pak Hud Munawar mengajar. Penulis sendiri tidak mengira kalau banyak mahasiswa yang tertarik dengan komunitas ini, ternyata di pertemuan pertama hadir sebanyak 12 (dua belas) orang mahasiswa. Dari pertemuan pertemuan pertama ini disepakati untuk mengadakan gathering setiap hari Rabu, mulai pukul 13.00 sampai 16.30. Kami yakin keanggotaan komunitas DOS ini akan semakin bertambah, dan kami berharap nantinya komunitas ini diharapkan mampu menjadi corong revolusi Open Source di kampus kami. Saat ini hampir sebagian besar anggota DOS masih awam dengan aplikasi-aplikasi Open Source dan Linux, namun kami selalu meyakinkan kepada mereka untuk tidak merasa minder, justru di DOS inilah tempat mereka belajar dan melatih kebiasaan menggunakan FOSS (Free Open Source Software). Sebagai wahana beraktifitas DOS, diberikan sebuah ruangan khusus dengan sebuah PC yang terhubung ke Internet, yang berada di Lantai 2 Gedung Fakultas Teknologi Industri. Di ruangan inilah mereka berorganisasi, melakukan pengembangan aplikasi dan memproduksi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan FOSS.

Baiklah, kembali ke pokok permasalahan semula. Tiap tahunnya kita membayar puluhan juta ke pihak asing, padahal saat ini telah tersedia banyak pilihan (yaitu FOSS) yang dapat diimplementasikan. Apalagi perkembangan open source begitu pesatnya, saat ini Linux dan aplikasi open source lainnya tidak lagi menjadi momok seperti beberapa tahun di belakang, dimana di kalangan user masih kesulitan untuk menggunakannya. Saat ini Linux dan FOSS sangat mudah sekali digunakan, banyak tersedia pilihan dan mudah didapatkan. Membayar ke Microsoft penulis kira hanya sebuah pemborosan saja, dimana pemborosan sendiri dilarang di agama manapun. Lain halnya ketika tidak ada pilihan lain untuk itu, namun sekarang kondisi telah berbalik. Linux telah mampu disejajarkan dengan Windows, juga aplikasi pendukungnya.

Uang yang tiap tahunnya disetorkan ke Microsoft ada baiknya dialihkan kedalam, artinya uang tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk biaya migrasi server dan workstation, pengembangan sumber daya insani lewat kegiatan sosialisasi dan workshop dan kegiatan-kegiatan intern lainnya, dengan begitu maka proses migrasi akan membawa nilai lebih bagi masyarakat kampus UNISSULA. Kami yakin proses ini akan memakan waktu, tidak hanya setahun – dua tahun untuk mampu mewujudkan kemandirian teknologi seperti ini, namun penulis berharap bahwa keinginan dari semua pihak akan pentingnya bermigrasi harus terus di tanamkan. Semua lapisan di UNISSULA harus sadar dan mengerti tentang migrasi ini, karyawan rektorat, staf fakultas, dosen dan para pemimpinnya (rektor, pembantu rektor dekan, dan pembantu dekan) haruslah sepakat dalam satu kata untuk mendukung program ini. Barulah nanti ketika semuanya telah berhasil bermigrasi, pihak kampus dapat memutus kerjasama MSCA-nya dengan didukung oleh SK Rektor UNISSULA yang menegaskan bahwa :

  1. Demi penghematan, maka pihak UNISSULA tidak lagi bekerjasama dengan pihak Microsoft dalam kerjasama MSCA
  2. Mewajibkan seluruh komputer milik UNISSULA menggunakan aplikasi legal demi penegakan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)
  3. Demi kemandirian teknologi informasi, maka UNISSULA akan menggunakan FOSS (Free Open Source Software) di komputer-komputer milik UNISSULA sebagai solusi murah akan software legal
  4. Legalitas software yang tertanam pada komputer milik pribadi yang berada di dalam area kampus UNISSULA menjadi tanggung jawab dari pemilik komputer, bukan pihak UNISSULA
  5. Semua anggaran yang dikeluarkan atas diterbitkannya Surat Keputusan ini ditanggung sepenuhnya oleh pihak UNISSULA

Bagaimana nantinya proses migrasi di lakukan? Kemarin penulis berbincang dengan Wakil Rektor I UNISSULA, Bapak Ir. H. Sumirin, MS. Kebetulan beliau sangat mendukung konsep gerakan ini, dalam perbincangan tersebut penulis mengungkapkan bahwa nantinya proses migrasi berlangsung secara bottom-up, artinya proses migrasi akan dilakukan terlebih dahulu terhadap komputer-komputer klien, setelah berhasil barulah dilakukan migrasi di sisi komputer server. Di minggu depan ini penulis akan menuangkan gagasan ini dalam sebuah proposal dan diajukan ke Rektor UNISSULA sesuai dengan anjuran Wakil Rektor I UNISSULA, kami mohon doa restunya agar gerakan ini dapat lekas mendapat dukungan. [The Indiebrainer]

 

 

 

 

 

7 thoughts on “Kenapa Kami Harus Bermigrasi? Bikin Repot Aja!, UGOS (UNISSULA Goes Open Source) Mimpi Kali Yeeee….

  1. nabila Juni 19, 2007 pukul 9:45 am Reply

    good idea!
    sst,,selama ini bapak tuh belum terlalu terbuka sm open source.
    yg nabil liat sih,,msh menganggap klo open souce tu belum sebanding sm microsoft….

  2. Gora Juni 19, 2007 pukul 1:43 pm Reply

    Wah, Nabil ternyata baca juga yaa? Saya maklum kalo bapak Nabila (Rektor UNISSULA) belum begitu terbuka dengan Open Source, mungkin karena belum begitu kenal. Untuk itu kami di komunitas Dakwah Open Source (DOS) berupaya untuk mensosialisasikan penggunaan Free Open Source Software (FOSS) di kalangan kampus UNISSULA, bukan untuk apa-apa hanya karena rasa memiliki terhadap kampus, sehingga kami peduli untuk memberikan solusi hemat atas penggunaan software….
    *Tolong Bapak dibisikin lagi yaaa? Kalo Open Source Software itu Huebaaaattt bangggggetttt….* Thanks…

  3. kholix Juli 1, 2007 pukul 8:37 pm Reply

    keren..keren..keren…salut tuk pak gora…
    gudlak ajah deh….

  4. Gora Juli 2, 2007 pukul 12:52 pm Reply

    Thanks atas dukungannya bro…

  5. aNdRa Agustus 14, 2007 pukul 4:18 pm Reply

    Sejujurnya aku juga tak ingin bermigrasi… hiks hiks.. begitu banyak yang harus dipelajari di Linux. Aku nyumbang doa buat Sulax-nya deh mas, semoga sukses ya.

  6. gora Agustus 14, 2007 pukul 4:21 pm Reply

    Thanks mas Andra… blog ente gw catet di blogroll ane yee?..

  7. Bagus Herlambang November 12, 2007 pukul 9:03 am Reply

    Langkah yang tepat Pak Gora. Saya dukung UGOS-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: