Pendidikan Kewirausahaan Teknologi Informasi yang Setengah Hati


Tulisan ini merupakan keluh kesah penulis yang selama ini melihat ketidakseriusan pihak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan teknologi informasi dan informatika khususnya, dikarenakan program studi yang selama ini ada tidak dengan serius memberikan materi kewirausahaan teknologi informasi. Yang selama ini terjadi adalah pendidikan kewirausahaan di realisasikan dalam sebuah mata kuliah kewirausahaan yang notobene hanya 2 (dua) SKS saja, itupun tidak spesifik menyentuh aspek praktik teknologi informasi. Dengan volume pengajaran yang 2 (dua) SKS saja, penulis mengira masih belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal, seperti yang diharapkan oleh institusi pendidikan tinggi, yaitu mencetak wirausaha di bidang teknologi informasi.

Selama ini dosen kewirausahaan hanya mengajarkan teori-teori kewirausahaan, kepemimpinan dan ekonomi saja, namun aplikasi di lapangan, pentingnya HAKI dan kemandirian teknologi (seperti penggunaan software opensource) tidak pernah disentuh. Bahkan lucunya, banyak pula dari dosen yang mengajarkan kewirausahaan tersebut belum atau tidak memiliki usaha mandiri atau berwirausaha. Hasilnya, pendidikan teknologi informasi di Indonesia tetap saja menghasilkan banyak kuli-kuli TI yang terkungkung sebagai mesin uang bagi pemilik modal besar.

Terdapat sebuah contoh menarik yang dilakukan oleh Universitas Gunadarma, yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Universitas ini memiliki sebuah bisnis inkubator yang setiap tahunnya berusaha mencetak lebih dari 10 (sepuluh) perusahaan TI dari para mahasiswanya yang telah lulus. Dalam inkubator bisnis tersebut kelompok mahasiswa diajarkan pendidikan kewirausahaan, mulai dari pembuatan proposal bisnis, studi kelayakan usaha, pendidikan ketrampilan, kepemimpinan dan organisasi, kemandirian teknologi (dengan software opensourse) sampai pada hasil akhir berupa sebuah perusahaan TI lengkap dengan ijin badan usaha dari pemerintah (berbentuk CV). Staf pengajar yang bergerak di inkubator bisnis lebih banyak dari para praktisi TI yang telah berhasil berwirausaha. Untuk menjalankan inkubator bisnis tersebut universitas dibantu oleh Departemen Perindustrian, khususnya dalam urusan dana. Terbukti, saat ini banyak perusahaan IT di Indonesia di dominasi oleh perusahaan hasil inkubator bisnis dari Universitas Gunadarma. Tanpa bantuan dari pemerintahpun sebenarnya setiap perguruan tinggi dapat menjalankan model pendidikan kewirausahaan seperti ini disesuaikan dengan besaran dana yang ada. 

Sepenggal pengalaman tersebut adalah bukti konkret keberhasilan pendidikan kewirausahaan teknologi informasi di perguruan tinggi yang memiliki program studi teknologi informasi, informatika dan komputer. Penulis berharap apa yang telah dipaparkan diatas dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi yang lain untuk melakukan hal yang sama, agar bangsa ini dapat segera lepas dari masalah pengangguran.

4 thoughts on “Pendidikan Kewirausahaan Teknologi Informasi yang Setengah Hati

  1. desri Juni 12, 2007 pukul 12:06 pm Reply

    Benar Pak Gora, sering mata kuliah yang diajarkan tidak sesuai dengan konteks yang ada pada jurusan itu sendiri, sangat disayangkan kalau kuliah di jurusan TI tapi salah satu matakuliah tidak menerapkan nilai-nilai teknologi informasi,

  2. miCtah September 18, 2008 pukul 12:22 pm Reply

    Bener tuh…. bener

    hehe bener2 gak ngerti Gua!!!

    thanks for the blogs

  3. Thodo Timoteus Maret 22, 2010 pukul 1:48 pm Reply

    Salam kenal Pak Gora.
    Saya tertarik dengan artikel bapak mengenai pendidikan kewirausahaan TI yang bapak paparkan disini. Tetapi sebetulnya samapai dimana kah pendidikan kewirausahaan itu disampaikan kepada mahasiswa ? dan bagaimana cara yang tepat menyampaikannya agar tidak membuat mahasiswa tidak bosan. Mohon jika bapak berkenan memaparkannya lebih jauh. Atau jika bapak memiliki info lebih tentang hal tersebut, saya mohon dikirimkan infonya ke email saya. Terima Kasih.

  4. gora Maret 22, 2010 pukul 5:33 pm Reply

    Untuk pendidikan yang saya maksudkan sebenarnya adalah harapannya mereka bisa langsung mengerjakan/membangun usaha mereka dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Sehingga secara berkelompok mereka dapat langsung untuk merancang bisnis mereka dengan membuat business plan, syukur-syukur bisa langsung membuat bisnis dan langsung menjalankan bisnis kecil mereka. Namun selama ini dalam pelajaran kewirausahaan hanya diajarkan konsep-konsepnya saja tanpa disertai praktek langsung. Saya yakin dengan pembelajaran berbasis proyek dan praktek seperti ini akan membuat mahasiswa lebih senang dalam belajar, dan mereka akan langsung memiliki pengalaman untuk mengaplikasikan pengetahuannya di dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: