SULAX untuk Revolusi Kurikulum IT-Literacy di UNISSULA


Sudah hampir 6 (enam) tahun ini pendidikan IT-Literacy berlangsung di universitas kami. Mata kuliah IT-Literacy sendiri merupakan usaha dari pihak universitas untuk mengenalkan teknologi informasi, khususnya komputer dan Internet kepada mahasiswa baru UNISSULA. Nampaknya dari penyelenggaraan tersebut perlu adanya sebuah perubahan agar kualitasnya menjadi jauh lebih baik. Beberapa catatan dari penulis untuk penyelenggara IT-Literacy, yaitu UPT Komputer dan Teledukasi UNISSULA :

  1. Mengganti materi software perkantoran yang diajarkan dengan aplikasi Open Source (misalnya Open Office) supaya tidak berkesan menanamkan ketergantungan terhadap sebuah paket aplikasi propertiari (dalam hal ini adalah Microsoft Office)
  2. Menambah pengetahuan tentang sistem operasi yang lain (dalam hal ini adalah Linux), selain sistem operasi Windows
  3. Menambah kurikulum IT-Literacy dengan materi pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaa Intelektual), supaya mahasiswa sadar hukum tentang pembajakan software.

SULAX (Sultan Agung Linux) merupakan salah satu dukungan dari komunitas Dakwah Open Source (DOS) Teknik Informatika UNISSULA untuk mendukung perubahan kurikulum IT-Literacy di UNISSULA, namun hal tersebut masih harus mendapat dukungan penuh dari para stake holder dan segenap pengajar IT-Literacy. Dilema yang biasanya ditakutkan ketika migrasi terjadi adalah sulitnya para pengajar dapat menerima hal yang baru ini, mengingat ketergantungan dan keterbiasaan mereka akan sebuah platform (yaitu Windows dan Microsoft Office). Banyak dari mereka yang biasanya malas untuk mempelajari hal yang baru, namun kami berharap hal tersebut tidak terjadi di UNISSULA🙂 . Belajar IT-Literacy dengan SULAX akan membawa mahasiswa ke tataran yang lebih jauh dari sekedar belajar menggunakan aplikasi dengan klak-klik saja, semoga SULAX dapat memberi kemanfaatan lebih.. [The Indiebrainer]

10 thoughts on “SULAX untuk Revolusi Kurikulum IT-Literacy di UNISSULA

  1. huda Juni 3, 2007 pukul 7:50 pm Reply

    sulitnya para pengajar dapat menerima hal yang baru ini, mengingat ketergantungan dan keterbiasaan mereka akan sebuah platform (yaitu Windows dan Microsoft Office)

    hmm… di informatika aja kayak gini, apalagi di kedokteran…

    kayaknya yg marak berkembang tuh distro2.. seharusnya yg lebih penting difokuskan justru pengembangan driver

  2. Gora Juni 6, 2007 pukul 9:40 am Reply

    Kebetulan mata kuliah IT Literacy diterapkan di semua Program Studi di UNISSULA, pengajarnya pun banyak berasal dari program studi masing-masing, nah kondisi heterogenitas kemampuan IT itulah yang jadi kendala… semoga saja mereka (pengajar) mau untuk belajar hal yang baru.. Harus Mau!!!

  3. desri Juni 12, 2007 pukul 11:49 am Reply

    Memang suatu mata kuliah harus bisa menyesuaikan lingkungan jurusan, benar sekali Pak Gora, kalaupun mata kuliah kewirausahaan di jurusan informatika, harusnya menerapkan tehnologi informasi,
    Seperti halnya proyek sulax, saya berpendapat salah satu aspek sulax adalah refleksi kewirausahaan dengan teknologi informasi

  4. udey Juli 24, 2007 pukul 1:16 pm Reply

    Ayo… Bikin Linux sendiri… Mudah kok…. lihat aja di sini:http://linux.or.id/node/1026
    Nggak serepot yg dibayangkan kok untuk ngebuat DistroLinux sendiri. Nggak perlu kuliah….
    Masaq anak kampus bikinnya kayaq gini… Wakakakaka…..
    Lanjoet…

  5. Gora Juli 25, 2007 pukul 5:49 pm Reply

    Sulax versi Live memang dibangun dari SLAX, sama juga caranya dengan tutorial tersebut… konsep distribusi paling simpel khan hanya memaket aplikasi saja….🙂 Sama seperti yang kita lakukan di Dakwah Open Source, kita ambil jalan tercepat dan termudah untuk menggugah semangat mereka mencintai opensource, tadinya saya berfikir seperti itu… masak kayak gini diajarin sih, bikin distro khan gampang, tapi saya khan bukan seperti mahasiswa saya yang sama sekali nol di Linux, nah kita butuh sebuah komunitas dan projek untuk menggugah hal tersebut… mungkin lain kondisinya dengan kampus mas yang begitu hebatnya…

    Belum lagi saat kita coba mengenalkan linux ke sekolah-sekolah ketika kita mendekati ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) TIK SMU mereka sangat awam dan ketakutan ketika mendengar kata linux, jadi mau tidak mau kita harus ambil shortcut, meskipun langkah kita dibilang sudah kuno bagi teman2 di komunitas Linux, (saya pun merasa inilah yang saya lakukan tahun 2002 lalu.. install fest, penjelasan tentang linux…dsb ha..ha..ha..)

    Di masalah sosialisasi kendalanya lain seperti di akademik mas, di lapangan karakteristiknya unik, bukan masalah hebat dan tidaknya sebuah teknologi yang dibangun… yang kita lakukan sekarang adalah menggairahkan semangatnya dulu… Kalo kita langsung melangkah ke hal yang sulit maka akan sulit untuk diterima masyarakat, yang notobene awam tentang linux… Yang penting semangatnya sama, yaitu turut menggiatkan opensource, hanya strategi saja yang berbeda….

    Saat ini kami pun sedang melakukan pengembangan distribusi Linux yang memang ditujukan untuk proses instalasi.. tunggu saya perkembangannya… Oh ya mulai bulan depan kita akan rutin setiap bulannya mengunjungi sekolah2 di Semarang, tepatnya untuk mensosialisasikan Linux,…

  6. griffon x Juli 27, 2007 pukul 12:53 pm Reply

    to udey
    sesuatu yang bagus itu bukan berarti harus sulit dan bisa dimulai dari yang sederhana dan mudah
    thanks..

  7. grandonk Juli 27, 2007 pukul 12:56 pm Reply

    gitu aja kok repot..
    kipas!! kipas!!
    ayo para pecinta opensource hargai usha para linuxer yg lain.

  8. kriting Juli 27, 2007 pukul 1:01 pm Reply

    selamat buat anak-anak DOS, jangan patah semangat dengan komentar yang kaya diatas (by udey), semuanya butuh proses, dan kalo udah pinter jangan jadi sombong, karena ngga jadi hebat orang yang sombong dan membanggakan diri. buat mas udey terima kasih atas “sarannya”…!!! tetep semangat DOS..!!!

  9. gembulx Juli 27, 2007 pukul 1:10 pm Reply

    to udey
    makasih buat “pujiannya”,,tapi semua itu bisa jadi motivasi kami untuk membuat yang lebih “sederhana” lagi..
    tapi ingat filsafat padi,.,semakin pintar orang semakin ngga “sombong”..wee..e’e’e’e

  10. Syahputra Maret 13, 2008 pukul 2:55 pm Reply

    klo kita lihat dari segi peningkatan ilmu teknologi, bukan saja karene kite2 kuliah tapi keterampilan, N bakat
    makanya sangat disayangkan klo kite nga mau mengekspresikan bakat yang kite miliki.
    but about sulax I was igree becase this
    importenting to study, n we can to look at .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: