Banjir Jakarta dan Penerapan E-Learning


Kemarin sore penulis menonton berita dari RCTI (Seputar Indonesia), berita tersebut menayangkan peristiwa banjir di Jakarta yang menggenangi gedung sekolah SMUN 8 Jakarta. Praktis akibat banjir selama sepekan tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut tidak dapat dilaksanakan. Sekolah-pun untuk beberapa hari dijadikan sebagai tempat pengungsian. Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa dinas P & K DKI tidak mengalokasikan waktu libur khusus yang diakibatkan banjir ini, namun siswa diwajibkan untuk belajar mandiri di rumah masing-masing (gimana kalau rumahnya kebanjiran yaaa?… ya tetep aja ngga bisa belajar mandiri). Salah satu guru SMUN 8 Jakarta menjelaskan bahwa pihak sekolah-sekolah di DKI Jakarta telah mendapatkan arahan dari Dinas Pendidikan bahwa sekolah dapat tetap menyelenggarakan proses perkuliahan meskipun sekolahnya tergenang banjir, yaitu dengan metode pembelajaran elentronik (E-Learning).

Dalam wawancara ini pihak sekolah tidak secara detail menjelaskan mekanisme pembelajaran elektronik tersebut, tetapi di akhir perbincangan sang guru menjelaskan bahwa pembelajaran elektronik tersebut tidak dapat dilaksanakan mengingat terjadinya pemadaman listrik di berbagai sudut kota Jakarta.

E-Learning sebagai sebuah solusi untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar terbukti efektif ketika terjadi wabah SARS beberapa tahun yang lalu di Singapura, dimana sebagian warganya tidak boleh keluar rumah dengan adanya wabah ini. Ketika terjadi wabah SARS seperti di Singapura semua siswa diwajibkan untuk belajar menggunakan fasilitas E-Learning yang dimiliki oleh sekolah-sekolah disana. Namun kejadian di Jakarta saat ini lain, halangan untuk bersekolah diakibatkan kondisi bencana alam yang merusak berbagai infrastruktur (telekomunikasi misalnya, dimana akses Internet Speedy di Jakarta bermasalah) belum lagi masalah pemadaman listrik. Lain dengan kondisi ketika terjadi SARS di Singapura, dimana tidak terjadi kendala teknis untuk melaksanakan hal ini. Ironis memang, di satu sisi anjuran menggunakan E-Learning merupakan satu “langkah maju” dari Dinas P & K DKI Jakarta, namun disisi lain dengan berbagai halangan yang tidak terfikirkan membuat langkah ini menjadi sebuah “kelatahan” E-Learning. [The Indiebrainer]

One thought on “Banjir Jakarta dan Penerapan E-Learning

  1. teresa Februari 8, 2007 pukul 3:53 pm Reply

    wah, sebenarnya kita memang perlu banyak inisiatif untuk mencerdaskan bangsa, tapi kayaknya perlu banget untuk ga terlalu latah, dan melihat ke apa yang bisa kita miliki untuk terus maju…ah, Indonesia. e-learning is a great idea, tapi tanpa listrik, tanpa koneksi internet? kenapa ga belajar IPA langsung aja di rumah masing-masing, dari banjir yang terjadi…*senyum kecut*. oya, salam kenal mas Gora.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: