Sinisme Dosen Kuno Menghadapi Serbuan E-Learning


“Tidak semua kebaikan akan ditanggapi positif oleh orang lain”, mungkin itulah kalimat yang cocok untuk mengawali tulisan kami kali ini. Pernahkan anda mengembangkan sistem E-Learning di kampus/sekolah Anda?, pernahkan mencoba mensosialisasikannya ke semua rekan pengajar?, kalau pernah pastilah anda juga pernah mengalami hal ini, ya, kami menyebutnya sebagai “sinisme dosen kuno”. Kami memilih kata “dosen kuno” untuk menyebut dosen yang anti terhadap kehadiran teknologi informasi dan anti terhadap hadirnya teknologi pembelajaran. Dosen dengan tipikal ini begitu sinis mengahadapi pembaharuan yang Anda tawarkan, mereka sangat cuek, bahkan ada pula yang mencoba melakukan provokasi terhadap pengajar yang lain untuk memperoleh legitimasi.

Dosen kuno biasanya merasa bahwa keadaan mereka nantinya akan tergantikan dengan adanya teknologi ini (karena mereka merasa asing dan tidak menguasainya). Mereka juga merasa bahwa tanpa kehadiran teknologi inipun kegiatan belajar mengajar masih dapat berlangsung. Hal tersebut pantas dimaklumi mengingat mereka belum benar-benar mengerti tentang manfaat teknologi pembelajaran. Kebaikan yang telah anda siapkan (menyediakan sistem e-Learning dan mensosialisasikannya) tidak selalu ditanggapi postif oleh staf pengajar di sekitar lingkungan kerja. 

Terdapat beberapa langkah untuk mengancurkan sinisme dosen kuno dan menjadikan mereka sebagai dosen modern. Seperti ini misalnya :

  1. Coba tarik dan ikutkan mereka dalam proses pengembangan, dengan begitu mereka akan merasa dibutuhkan, dalam proses tersebut mintalah sumbangan ide ke mereka, apabila terdapat ide yang dapat dipakai, usahakan ekspos nama sang dosen berserta idenya ketika Anda berbicara di depan publik
  2. Jelaskan bahwa teknologi pembelajaran tidak akan menggantikan proses pendidikan yang ada, tetapi sebagai tambahan dalam pendidikan kelas yang ada.
  3. Cobalah menggaet kekuatan dosen modern lainnya, ikat hubungan tersebut menjadi sebuah forum diskusi sehingga Anda nantinya tidak bekerja sendirian dalam proses sosialisasi
  4. Dekati para pimpinan, minta agar mereka mengeluarkan peraturan resmi untuk mendukung penggunaan teknologi pembelajaran ini
  5. Apabila ke-empat cara diatas sudah Anda lakukan, namun sang dosen yang masih saja tidak mau berubah, maka saran kami, tinggalkanlah dosen kuno tersebut dan mulailah untuk menggarap secara maksimal dosen yang ingin belajar lebih.

Keadaan yang diceritakan penulis diatas berdasarkan kisah nyata dan pengalaman yang dihadapi penulis ketika mengembangkan sistem e-Learning di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang mulai tahun 2001 bersama rekan-rekan UPT Komputer dan Teledukasi. [The Indiebrainer]

8 thoughts on “Sinisme Dosen Kuno Menghadapi Serbuan E-Learning

  1. Yogie Januari 3, 2007 pukul 1:43 pm Reply

    Memang paling susah ketemu sama “orang dulu”.
    ditempatku aja juga masih ada orang yang macam begitu.
    Pengennya lancar tapi sarana dan prasarana nggak ada..

    *agak nggak nyambung ya?*

  2. Gora Januari 3, 2007 pukul 1:49 pm Reply

    dan biasanya “orang dulu” itu ngajarnya juga ngga enak, nilainya pelit, susah ditemui dan ngga mau sharing lebih banyak ke mahasiswa…

    *ngga nyambung juga yaaa?*

  3. Biho Januari 3, 2007 pukul 1:57 pm Reply

    Selamat berdjoang Pak Dosen, semoga anda terus diberi kesabaran ini…

  4. Gora Januari 3, 2007 pukul 2:11 pm Reply

    Siap mas!!

  5. helgeduelbek Januari 4, 2007 pukul 8:07 am Reply

    Kalau mereka tidak mau membuka diri sulit juga pak, mungkin mereka berpikir kita yang mangajak ini mau cari muka. Maklum yang berpikiran begitu memang orang yg jarang baca/mengamati trend informasi.

  6. Huda Januari 4, 2007 pukul 12:26 pm Reply

    orang dulu? ya.. gak semuanya sih… tapi rata2 gitu, sih
    cuekin aja Pak, terusin proyekmu. cayoo..!

  7. masfiq Januari 6, 2007 pukul 4:25 pm Reply

    Di dalam bisnis juga begitu. Saat ada yang belajar internet marketing, orang lain menganggapnya sedang belajar MLM atau bisnis tak jelas.

    Padahal mempelajari internet marketing khan bisa buat mengembangkan usaha yang udah ada, yaitu untuk mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya, menciptakan dan memperkuat brand image atas usaha tersebut.

  8. gora Januari 8, 2007 pukul 9:00 am Reply

    Untuk memasukkan sesuatu yang baru dalam sebuah stagnasi memang sulit…
    Kadang “mereka” begitu sempit memandang hal tersebut
    Thanks telah mampir Mas Topik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: