Pengalaman Gempa Jogja


Gempa JogjaSubhanallah!!!, itulah yang terbayang di benak saya setelah saya tahu bahwa gempa yang saya alami di Jogja kemarin Sabtu, 27 Mei 2006 ternyata menelan banyak korban jiwa (bahkan hari ini CNN telah mencatat 6000 korban gempa). Waktu itu, sekitar jam 05.55 saya terbangun karena mendengar suara gemuruh, berikutnya adalah goncangan yang sangat keras terjadi hampir selama satu menit.

Karena saya masih dalam suasana bangun tidur… saya hanya terdiam, kemudian berdiri di dalam kamar, dan tidak memiliki bayangan untuk menyelamatkan diri, karena saya berfikir getaran yang terjadi tersebut adalah efek letusan Gunung Merapi, tetapi itulah yang ada dalam benak seisi kos. Kos saya berada di jalan Kaliurang, jadi getaran terasa begitu kuat, namun tidak sampai merobohkan bangunan rumah kos. Setelah gempa pertama selesai, kemudian saya putuskan untuk mandi, untuk kemudian dapat secepatnya keluar dari rumah kos.

Keluar dari rumah kos, saya langsung menuju warung bubur untuk makan pagi. Kebetulan tv yang ada di warung menayangkan berita khusus tentang gempa yang terjadi barusan, saya baru tahu kalau gempa yang terjadi berasal dari laut dengan kekuatan 5,9 skala richter. Wew, pertama kali yang terlintas di kepala saya adalah bagaimana seandainya gempa yang terjadi tersebut menimbulkan tsunami…. Di warung ramai dibincangkan kejadian yang baru saja terjadi tersebut mereka pun seperti saya, mengira bahwa gempa yang terjadi adalah akibat letusan Merapi. Berikutnya saya pergi ke kampus (sekitar pukul 07.00) menggunakan Kopata. Sesampainya di gedung jurusan Elektro saya melihat banyak serpihan-serpihan tembok di lantai, saya kemudian melihat ke dinding bagian atas ternyata terdapat retakan-retakan pada struktur balok di area tangga.

Dalam gedung Elektro, tepat di kelas MTI, saya menghidupkan laptop dan mengetes apakah sambungan internet masih hidup. eh, ternyata internetnya dapat digunakan. Saat itulah saya mulai menulis dalam blog saya tentang kejadian yang saya alami tadi pagi. Pada saat asyi-asyiknya menulis teman-temanpun mulai berdatangan dan membawa berita masing-masing, Agung cerita kalau dirinya terbangun karena tertimpa Kipas Angin yang jatuh menimpa dirinya, lalu Pak Beni bercerita bahwa banyak bangunan yang rusak di tengah kota, lalu Mas Itok menelponku dan mengabarkan bahwa beliau tidak masuk karena masih merasa takut terjadi gempa susulan. Eeeee…. tak lama setelah itu sekitar jam 08.00 terjadi getaran lagi, meskipun tidak begitu kuat, tetapi hal itu sangat mengagetkan seisi kampur. Saya dan teman-teman langsung membawa laptop untuk keluar gedung, karena takut kalau-kalau gedung mengalami kegagalan struktur.

Semua yang ada di lingkungan fakultas Teknik, yang tadinya berada di dalam gedung jurusan masing-masing pun berhamburan keluar dan berkumpul di depan gedung (di taman), mereka masih menunggu klarifikasi apakah kegiatan perkuliahan diteruskan atau digagalkan. Ternyata Mas Sonny, salah seorang staff administrasi MTI memberi tahu kalau perkuliahan diliburkan untuk sementara. Bersama Agung saya berkeliling kampus untuk melihat akibat gempa. Ketika melewati RS. Sardjito yang kebetulan berada di dekat kampus, saya melihat banyak korban yang tergeletak (mayat dan korban luka-luka) di halaman rumah sakit. Perasaan miris dan panik mulai muncul ketika saya melihat keadaan ini.

Dari Sardjito kami menuju ke jalan raya Kaliurang, ketika sampai disana kami menjumpai keadaan yang mirip sekali dengan yang terjadi ketika tsunami Aceh terjadi. Kendaraan-kendaraan menghidupkan lampu mereka, kendaraan roda dua dan empat dengan muatan ibu dan anak kecil serta orang tua yang sudah lemah fisiknya berlomba-lomba melarikan diri untuk mencari tempat perlindungan, terutama ke daerah atas. Mereka merasa ketakutan setelah mendengar isu akan terjadinya tsunami di jogja. Di jalan raya terlihat banyak juga yang berjalan kaki ikut dalam rombongan eksodus besar-besaran tersebut. Mereka mencoba mencari tempat aman, ada yang menuju ke Kaliurang, terminal Jombor dan Magelang.

Saya pun kemudian ikut-ikutan panik tertular mereka. Lalu saya meminta Agung untuk mengantar ke terminal Jombor. Di dalam benak saya waktu itu berfikiran kalau saya harus meninggalkan Jogja secepatnya. Sesampainya di perempatan Jombor terjaadi kemacetan, karena semua pengendara kendaraan bermotor tidak menghiraukan lampu lalu lintas yang ada, akibatnya kemacetan tidak terelakkan. Tetapi kemudian ada polisi yang mau mengatur kemacetan tersebut sehingga sedikit demi sedikit kendaraan sudah dapat bergerak. Dalam kemacetan tersebut saya melihat dari kejauhan, sebuah mobil yang disopiri oleh seseorang yang wajahnya mirip seperti saudara saya, lalu mobil tersebut saya dekati, setelah kaca jendela terbuka ternyata benar bahwa saudara saya yang berada di dalam mobil tersebut. Kebetulan Dik Wahyu, Apun dan Gagat serta Mbak Eni dan Mbak Endang sedang berlibur ke Jogja, tetapi akibat melihat kepanikan isu tsunami merekapun memutuskan untuk segera pulang ke Semarang. Mereka juga bersama Alicia, anaknya Dik Apun yang masih berusia 1 tahunan, sehingga mereka khawatir kalau-kalau musibah tersebut benar terjadi karena mereka bersama anak kecil.

Merekapun mengajak saya untuk pulang bersama ke Semarang. Beruntung sekali saya mendapat tumpangan karena saya melihat di terminal Jombor tidak ada bus yang beroperasi waktu itu. Akhirnya jam 09.00 saya berhasil keluar Jogja, sesampainya di daerah Muntilan, Magelang di pusat jajan oleh-oleh saya bertemu dengan seorang TNI yang masih berseragam, mengungsi bersama istri dan seorang anaknya. Tentara tersebut menuturkan kalau dirinya begitu trauma dengan kejadian di Aceh (kebetulan ketika tsunami Aceh terjadi tentara tersebut sedang bertugas disana) sehingga beliau memutuskan untuk mengungsi ke rumah mertuanya. Di dalam mobil saya mendengarkan berita radio Sonora, bahwa korban jiwa gempa mencapai angka 100 orang, terbanyak dari wilayah Bantul. Beberapa menit berikutnya angkanya pun berubah, bertambah dan terus bertambah.

Begitu juga ketika kita berhenti sebentar untuk makan di rumah makan yang berada di Pringsurat, saya bertemu dengan keluarga yang berencana mengungsi ke Kudus, karena mereka ketakutan melihat empat orang tetangga mereka yang meninggal akibat tertimpa bangunan rumah yang roboh. Sampai di Semarang (sekitar jam 12.30) saya langsung menghidupkan televisi untuk melihat keadaan paska terjadinya gempa…. ternyata Subhanallah!!!! ini memang gempa yang dahsyat….

One thought on “Pengalaman Gempa Jogja

  1. 831077 Blog Verification Juni 3, 2006 pukul 11:54 pm

    831077 Blog Verification…

    831077…

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: