Kesalahan Pada Pengumuman Hasil Penerimaan CPNS : Bisakah Ditolerir?


Tadi malam sekitar pukul 22.00, ketika saya melihat MetroTV di running text nya tertulis “kesalahan pengumuman hasil penerimaan CPNS di Jateng disebabkan karena adanya salah satu parameter penilaian yang belum dimasukkan dalam bahasa program, selain itu belum dilakukannya proses ujicoba program juga merupakan penyebab terjadinya kesalahan ini”. Menurut saya kejadian ini sangatlah fatal, para panitia penerimaan CPNS tidak memperhitungkan betapa hebatnya efek domino dari peristiwa ini. Para pendaftar yang begitu antusias ketika melihat namanya terpampang dalam hasil pengumuman, harus kecewa begitu panitia mengumumkan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses koreksi, untuk kemudian mereka (panitia) meralat pengumuman tersebut. Kesalahan atau ketololan-kah?.

Berbagai tuntutan sekarang muncul akibat kesalahan ini, banyak pendaftar yang mulai berdemo di depan Gubernuran menuntut keadilan atas kejadian ini. Pemerintah daerah sebagai penyelenggara dan UPT Puskom UNDIP sebagai korektor merupakan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Software testing sebagai ujicoba sistem seharusnya telah dilakukan sebelum hari-H. Bukannya “asal jalan” seperti saat ini. Saat ini yang jadi pertanyaan saya adalah “mengapa pekerjaan koreksi ini diserahkan ke Puskom UNDIP?”, mungkin karena mereka sama-sama lembaga pemerintahan kali yaaa?.

Di interen institusi pendidikan sendiri, mungkin pihak Puskom UNDIP sudah kewalahan mengurusi KRS dan KHS, belum lagi jumlah personil yang sedikit, seperti kita ketahui bersama, mana ada Puskom berpegawai banyak?. Hal itu jelas-jelas akan memperlambat proses koreksi, baca berita Suara Merdeka mengenai hal ini disini. Seharusnya mereka juga mengajak universitas-universitas yang ada di Semarang, yang telah lebih dahulu konsen di teknologi informasi, seperti UDINUS, UNIKA dan UNISBANK sebagai backup.

Kejadian ini sangat berguna sebagai pelajaran dalam penerapan teknologi informasi.Kejadian sebelumnya seperti tes penerimaan siswa baru di tingkat SMP dan SMU seharusnya dapat menjadi bahan pelajaran kita, dimana terjadi kesalahan yang sama dimana proses ujicoba dan software testing belum sempat dilakukan. Bagaimana menurut Anda?

%d blogger menyukai ini: