Telah Terbit CD Kompilasi Software Pendidikan : TEACHNOLOGY Vol.1, Gratis Ongkos Kirim ke Seluruh Indonesia!!! November 11, 2009
Posted by gora in Active Learning, Classroom 2.0, Creative Idea, DIY Project, E-Book, E-Commerce, E-Learning, Education, Freeware, GNU/Linux, Games, Information Technology, Open Source, Publication, Software, Technopreneur, Vlog, Web 2.0.Tags: 21st century skills, project based learning, freeware compilation, education software, software gratis, koleksi software, teknologi pendidikan, aplikasi gratis, Open Source, integrasi teknologi di kelas, mind mapping
add a comment
Untuk memudahkan para pendidik/guru/instruktur/dosen mengaplikasikan dan memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan pembelajaran khususnya memanfaatkan aplikasi gratis baik yang sifatnya Freeware maupun Opensource “Tanpa Harus Repot Mendownload“, The Indiebrainer menerbitkan CD (Compact Disc) yang berisi kumpulan/kompilasi freeware (software gratis) berukuran 700 MB untuk mendukung kegiatan pembelajaran di dalam kelas. CD Kompilasi Freeware ini kami beri nama TEACHNOLOGY Vol.1. CD volume pertama ini berisi berbagai aplikasi gratis siap pakai berupa aplikasi perkantoran, astronomi (perbintangan), digital story telling, kamus/dictionary, aplikasi komunikasi dan kolaborasi, matematika, pemodelan/modelling, pengolah audio, pengolah video, game interaktif, geografi, pemetaan konsep/concept mapping, simulasi dan laboratorium virtual. Dapatkan berbagai bonus konten berupa E-Book dan Permainan Interaktif PowerPoint yang dapat Anda manfaatkan untuk mengaktifkan kelas Anda hanya dengan memanfaatkan penggunaan satu komputer di dalam kelas. Pesan sekarang juga!!!
Do It Yourself Project : Menyelenggarakan Multipoint Video Conferencing Menggunakan Skype Oktober 28, 2009
Posted by gora in Classroom 2.0, Creative Idea, Creative Ideas, DIY Project, E-Learning, Education, Information Technology, Research, Software, Telecommunication, Video Production, Vlog, Web 2.0, internet application.Tags: low cost teleconference, multipoint, skype, video conference
4 comments
Menyelenggarakan video conference dengan banyak orang di tempat terpisah terkadang di benak kita masih terbesit pikiran untuk melakukannya butuh biaya yang mahal. Ada berbagai macam peralatan yang biasa digunakan untuk melakukan hal tersebut salah satunya Polycom, namun perangkat tersebut harganya tentu saja harganya sangat mahal, sekitar 80 jutaan. Hal ini tentu saja sangat mustahil untuk bisa dilakukan oleh institusi atau pribadi dengan kocek minim
.
Ada alternatif lain untuk menyelenggarakan video conference dengan 4 (empat) tempat berbeda atau yang sering disebut dengan multipoint video conference, yaitu memanfaatkan aplikasi gratis Skype. Skype adalah salah satu perangkat VoIP (Voice Over Internet Protocol) yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi suara, teks dan gambar video secara gratis dan sangat populer di dunia maya. Aplikasi Skype ini secara default hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi video secara point-to-point saja, alias antara satu peserta dengan satu peserta. Namun dengan sedikit kreatifitas, aplikasi ini akan kita gunakan untuk melakukan komunikasi multipoint, atau dengan banyak tempat dan client.
Kami telah mengujicobakan hal ini ketika pelaksanaan kegiatan video conference yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Syahrul Yasin Limpo) dengan 3 (tiga) Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) binaan DBE2 USAID beberapa waktu yang lalu dalam acara Dies Natalis Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Hasilnya memang tidak begitu sempurna, artinya sedikit berbeda kualitas dengan dibandingkan dengan perangkat video conference yang mahal seperti Polycom. Namun hal ini cukup memberikan pengalaman tersendiri khususnya untuk beberapa PSBG yang mengikuti acara ini, yaitu PSBG Pelita Ilmu di Pangkep, PSBG Karya Mandiri Guru di Makassar dan PSBG Harapan Baru di Jeneponto dimana mereka untuk pertama kalinya dapat melakukan dialog secara langsung dengan Rektor UNM dan Gubernur Sulawesi Selatan.
Memanfaatkan Wiimote Sebagai Alat Bantu Presentasi Agustus 16, 2009
Posted by gora in Classroom 2.0, Creative Idea, Creative Ideas, DIY Project, Diary, E-Learning, Education, Hardware Review, Information Technology, Software.1 comment so far
Setelah bereksperimen dengan Wiimote sebagai papan pintar (smartboard), ternyata manfaat Wiimote tidak sampai disini saja. Ternyata Wiimote dapat dimanfaatkan sebagai remote control untuk mengendalikan presentasi PowerPoint di layar. Aktivitas presentasi menjadi lebih mudah menggunakan perangkat ini, karena Anda tidak perlu lagi harus mengunjungi laptop/notebook Anda untuk sekedar menekan tombol panah untuk melanjutkan slide PowerPoint.
Cukup sediakan wiimote dan software bernama Wiimote Presenter maka wiimote Anda telah siap digunakan sebagai remote control presentasi. Petama-tama install terlebih dahulu aplikasi Wiimote Presenter ke dalam komputer. Lalu aktifkan koneksi bluetooth di komputer. Tambahkan device bluetooth baru di komputer, biasanya Wiimote akan dikenali sebagai Nintendo RVL-CNT-01. Pastikan Wiimote berhasil terkoneksi dengan baik ke komputer.
Kemudian jalankan aplikasi Wiimote Presenter, dan jalankan pula presentasi PowerPoint Anda, maka Wiimote telah siap digunakan sebagai remote control. Gunakan tombol panah yang ada di Wiimote untuk mengendalikan slide presentasi maju dan mundur. Selamat mencoba!!!
Penerapan E-Learning di Sekolah, Tidak Sekedar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Juni 14, 2009
Posted by gora in Active Learning, Classroom 2.0, Creative Idea, E-Learning, Education, Information Technology, Internet Service, M-Learning, Publication, Software, Web 2.0, Workshop, internet application.Tags: E-Learning, integrasi teknologi dalam kelas, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, peningkatan kualitas pendidikan, technology integration in classroom
9 comments
E-Learning atau electronic learning memang telah menjadi tren pada beberapa tahun terakhir. Banyak sekolah dan universitas di Indonesia mengadopsi sistem pembelajaran ini di lingkungannya. Namun, banyak pihak merasa bahwa teknologi ini masih jauh untuk bisa diterapkan secara optimal di Indonesia, mengingat banyak keterbatasan yang ada.
Untuk mendukung penerapan e-Learning di sekolah, banyak sekali hal yang perlu dilakukan. Pengadaan infrastruktur server dan jaringan komputer serta penyediaan Learning Management System (LMS) sebagai ruang kelas virtual tempat berinteraksinya siswa dan pembelajar (fasilitator/guru/dosen) seringkali menjadi fokus utama dari implementasi e-learning.
Biasanya setelah infrastruktur dibangun dan ruang kelas online tersedia, maka dilaksanakanlah pelatihan dan sosialisasi dari sistem yang baru saja dibangun. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dsb.
Hadir dalam pelatihan tersebut dosen yang memiliki paradigma “lama” yang resisten terhadap perkembangan teknologi dan dosen yang berparadigma “baru” yang sangat tertarik dengan perkembangan teknologi. Dosen berparadigma lama menganggap bahwa mereka sudah tidak memiliki waktu lagi selain di kelas tatap muka, untuk melakukan hal-hal tambahan seperti belajar teknologi baru, membuka ruang kelas virtual untuk menjawab pertanyaan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan dosen berparadigma baru akan memberikan respon yang kuat, mereka sangat tertarik untuk dapat secepatnya menerapkan di kelasnya, dan mereka sangat antusias untuk mempelajari hal-hal baru.
Hal tersebut diatas adalah hal yang lazim kita temui di Indonesia, dimana inovasi penerapan teknologi pendidikan sangat lamban terjadi. Keadaan ini memang harus dimaklumi mengingat kendala pemerataan teknologi dan minimnya dukungan pemerintah terhadap inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Namun perlu diberikan penekanan, bahwa konsep dasar e-Learning adalah “pedagogi yang diperkuat oleh teknologi” (Wikipedia, 2009), sehingga guru harus berfikir tentang banyak aspek dari pedagogi dibanding kepada sisi teknologi saja. Artinya, guru haruslah memikirkan berbagai strategi pembelajaran agar efektif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan fokus mengajarkan teknologi baru ini kepada para siswanya. Karena teknologi disini hanyalah sebagai “alat bantu” untuk mendukung tujuan pembelajaran itu sendiri.
Tips Mempercepat Koneksi Internet Desember 25, 2008
Posted by gora in Blogging, Creative Idea, Education, Information Technology, Internet Service, Mobile Review, Software, Telecommunication.Tags: internet cepat, mempercepat koneksi internet
6 comments
Jika saat ini anda merasa koneksi 3G yang didapatkan masih kurang stabil, atau di beberapa tempat kadang anda hanya mendapatkan sinyal GPRS, maka anda wajib mencoba tips yang satu ini. Koneksi internet yang ada sekarang dapat diakselerasi kecepatannya dengan berbagai cara. Lewat blogwalking, saya mendapatkan beberapa cara untuk mempercepat koneksi internet, ya lumayan lah… ada 2 (dua) cara yang saya pakai, yang pertama adalah menggunakan layanan Hemat.Net dan yang kedua menggunakan metode SSH Tunnelling. Ngga percaya? Buktikan sendiri khasiatnya… Gambar disamping merupakan bukti setelah saya mencoba melakukan test menggunakan koneksi GPRS dengan tips ini, silahkan baca lanjutan artikel ini….
Menyisipkan Materi Kewirausahaan dalam Perkuliahan November 27, 2008
Posted by gora in Active Learning, Blogging, Classroom 2.0, Creative Idea, Diary, E-Learning, Education, Information Technology, Internet Service, Opinion, Software, Technopreneur.Tags: E-Commerce, learning activity, multimedia, online store, PBL, problem based learning, project based learning, soft skills
2 comments
Dalam beberapa perkuliahan, saya berusaha untuk menyisipkan materi kewirausahaan sebagai inisiatif membekali para mahasiswa dengan kemampuan soft skills. Pembekalan kemampuan wirausaha tersebut tidak terpisah menjadi mata perkuliahan sendiri, melainkan terintegrasi dengan mata kuliah yang ada. Lantas bagaimana mekanisme integrasinya? Biasanya dalam perkuliahan, saya skenariokan mereka berkelompok, lalu membagi peran, misalnya dalam mata kuliah e-Commerce, dimana mereka di skenariokan membuat sebuah perusahaan lalu mengembangkan arah usaha mereka dengan mengimplementasikan e-Commerce, salah satunya dengan membangun Online Store/Toko Online dan menjual barang dan jasa mereka lewat Internet.
Dalam kelompok tersebut masing-masing anggota kelompok memiliki perannya masing-masing. Terdapat banyak posisi peran yang disesuaikan dengan realitas dan tugas yang ada di perusahaan sesungguhnya. Misalnya CEO/Direktur yang bertugas memimpin dan mengkoordinasikan jalannya perusahaan, lalu Web Designer yang bertugas merancang tampilan toko online nantinya, serta peran-peran lain yang dapat dibuat sesuai dengan jumlah anggota kelompok.
Buka Bersama Warga Dakwah Open Source September 26, 2008
Posted by gora in Blogging, Creative Idea, Diary, Education, GNU/Linux, Information Technology, Islam, Open Source, Software.Tags: kelompok studi linux, open source community, SULAX
add a comment
Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari Selasa, 16 September 2008 seluruh warga Dakwah Open Source (DOS) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang menyelenggarakan acara buka bersama. Acara bertempat di E-Plasa, Simpang Lima ini dihadiri oleh 20an anggota DOS dari jurusan Teknik Informatika UNISSULA. Inilah momen yang ditunggu-tunggu selama ini, karena komunitas ini belum sempat melaksanakan pertemuan selama beberapa bulan.
Namun demikian, meski jarang bertemu, para anggotanya masih aktif dalam berkomunitas dan berkarya, terbukti dari salah satu proposal anggotanya lolos dalam PKM Kewirausahaan. Selain itu dalam ajang AKOSS (Ajang Kreasi Open Source Software) di ajang PIMNAS kemarin, distro SULAX (Sultan Agung Linux) yang dibuat komunitas ini berhasil menyabet juara 2 (dua) di kategori distro.
Selain saya, hadir pula dalam acara buka bersama tersebut Pak Taufik dan Pak Hud Munawar yang beperan sebagai pembina di komunitas ini. Satu persatu kami memberikan motivasi ke mahasiswa untuk selalu belajar dan berbagi ilmu kepada orang lain. Kami berharap bahwa komunitas ini mampu menjadi wadah bagi mereka untuk membekali diri dalam dunia kerja, selain itu kami juga berpesan bahwa wadah ini juga merupakan ladang anda untuk berbagi ilmu dengan yang lain. Dalam diskusi yang ada, kami berencana untuk aktif kembali dan menyelenggarakan pelatihan dalam waktu dekat. Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah bersusah payah mempersiapkan acara ini. Semangat!!!!
Ngoprek Apa Hari Ini? September 9, 2008
Posted by gora in Blogging, Creative Idea, Diary, Education, Flash Lite, Information Technology, Inside My Brain, M-Learning, Mobile Programming, Software, Telecommunication.Tags: adobe, Flash Lite, mobile application, ngoprek
add a comment
Ngoprek, biasanya diartikan “suatu kegiatan mengutak-atik komputer seisinya dengan atau tanpa tujuan tertentu”. Entah dari mana asal kata tersebut, yang jelas saya senang menggunakan dan melakukannya
![]()
Hari ini saya ngoprek apa yaaa?.. Hmmm.. saya ingat-ingat dulu…
Oh iya!, hari ini saya ngoprek Flash Lite, itu lho platform pengembangan aplikasi mobile buatan Adobe. Menginstal Adobe Flash Lite Player versi 2.1 di handphone Nokia N70, kemudian mendownload beberapa sample aplikasi Flash Lite untuk diujicobakan di handphone untuk menguji apakan playernya terinstall dengan sempurna sehingga besok tinggal develop aplikasi dengan komponen baru hasil donlotan …. Hah! Apa lagi yaaa?
Apa yang Anda oprek hari ini?
Membuat Interactive Whiteboard Sendiri (Bagian 1), Mencari dan Mengeksplorasi Wii Remote (Wiimote) Juni 4, 2008
Posted by gora in Blogging, Classroom 2.0, Creative Idea, DIY Project, Diary, E-Learning, Education, Information Technology, Inside My Brain, Just For Fun, Research, Software, Workshop.Tags: Classroom 2.0, interactive whiteboard, multitouch screen, wii remote, wiimote
2 comments
Untuk memulai bereksperimen membuat Interactive Whiteboard, saya membutuhkan berbagai peralatan seperti Wii Remote atau Wiimote, IR (Infra Red) Pen, aplikasi kalibrasi layar (Wiimote Whiteboard v2.0 buatan Johnny Lee) dan Tripod Kamera sebagai tempat meletakkan Wiimote. Perangkat yang pertama kali saya cari adalah Wii Remote (Wiimote), yaitu sejenis remote control, aksesoris dari mesin game Nintendo Wii. Untuk mendapatkan ini saya memanfaatkan search engine Google di Internet. Beruntung ada sebuah webstore yang menjual peralatan game yang menjual perangkat ini, nilai lebihnya adalah posisi toko offline-nya ada di Semarang, Jawa Tengah.










