Buka Bersama Warga Dakwah Open Source September 26, 2008
Posted by gora in Blogging, Creative Idea, Diary, Education, GNU/Linux, Information Technology, Islam, Open Source, Software.Tags: kelompok studi linux, open source community, SULAX
add a comment
Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari Selasa, 16 September 2008 seluruh warga Dakwah Open Source (DOS) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang menyelenggarakan acara buka bersama. Acara bertempat di E-Plasa, Simpang Lima ini dihadiri oleh 20an anggota DOS dari jurusan Teknik Informatika UNISSULA. Inilah momen yang ditunggu-tunggu selama ini, karena komunitas ini belum sempat melaksanakan pertemuan selama beberapa bulan.
Namun demikian, meski jarang bertemu, para anggotanya masih aktif dalam berkomunitas dan berkarya, terbukti dari salah satu proposal anggotanya lolos dalam PKM Kewirausahaan. Selain itu dalam ajang AKOSS (Ajang Kreasi Open Source Software) di ajang PIMNAS kemarin, distro SULAX (Sultan Agung Linux) yang dibuat komunitas ini berhasil menyabet juara 2 (dua) di kategori distro.
Selain saya, hadir pula dalam acara buka bersama tersebut Pak Taufik dan Pak Hud Munawar yang beperan sebagai pembina di komunitas ini. Satu persatu kami memberikan motivasi ke mahasiswa untuk selalu belajar dan berbagi ilmu kepada orang lain. Kami berharap bahwa komunitas ini mampu menjadi wadah bagi mereka untuk membekali diri dalam dunia kerja, selain itu kami juga berpesan bahwa wadah ini juga merupakan ladang anda untuk berbagi ilmu dengan yang lain. Dalam diskusi yang ada, kami berencana untuk aktif kembali dan menyelenggarakan pelatihan dalam waktu dekat. Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah bersusah payah mempersiapkan acara ini. Semangat!!!!
Membudayakan Penggunaan Kalender Hijriyah Januari 27, 2007
Posted by gora in Diary, Islam, Vlog.1 comment so far
Saat ini umat Islam begitu bersemangat ketika merayakan tahun baru Masehi, tiap malam akhir tahun pastilah diselenggarakan pesta-pesta dan pertunjukan yang begitu mewah dan gemerlap, namun apa yang terjadi ketika tahun baru agamanya (hijriyah)?. Di kampus kami, kemarin pada tanggal hari Senin 22 Januari 2007 diselenggarakan peringatan Tahun Baru Hijriyah, dalam acara tersebut diisi pula orasi ilmiah oleh Ketua MPR-RI Bapak DR. H. Hidayat Nur Wahid, MA. Dalam pembukaan acara, Bapak Rektor UNISSULA menyampaikan sambutan yang secara garis besar berisi tentang bagaimana terbentuknya kalender hijriah, kalender hijriah yang dulu sempat menjadi penanggalan yang resmi digunakan di seluruh dunia, perang peradaban yang terjadi,yang membuat umat Islam sedikit demi sedikit mulai meninggalkan perdabannya sendiri, yang membuat umat Islam saat ini kebanyakan hanya menjadi followers, bukan menjadi leaders.
[youtube]WVY8KIoTKtM[/youtube]
Dalam acara tersebut kebetulan kami ditugaskan untuk membuat konten visualisasi video yang ditampilkan dalam acara tersebut. Dalam video pertama, yaitu tentang “Membudayakan Penggunaan Kalender Hijriyah”, yang video-nya disertakan dalam posting ini, kami mewawancarai para ahli falaq. Beliau bercerita bahwa tahun Jawa yang saat ini dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa sebenarnya sudah Islami. Yang memprakarsai perubahan dari tahun Saka ke tahun Jawa Islam adalah raja mataram Islam bernama Sultan Agung, yang namanya diabadikan menjadi nama universitas dan yayasan pendidikan kami. Terdapat statement yang sangat menarik seputar tanggal proklamasi kemerdekaan negara kita, yang di tahun Masehi itu jatuh pada tanggal 17 Agustus, namun tidak ada yang merayakan hari bersejarah tersebut dengan menggunakan kalender Hijriyah, yang kebetulan jatuh pada tanggal 9 Ramadhan. Seharusnya perayaan hari kemerdekaan kita lakukan pada bulan puasa… bagaimana menurut Anda? [The Indiebrainer]

Alhamdulillah di tahun ini Allah S.W.T masih memberi kami sekeluarga begitu banyak nikmat. Salah bila kita sebagai umatnya melupakan untuk bersyukur atas karunia yang telah diberikan selama ini. Fabiayyi aalaaa irobbikuma tukadzibaan, maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan kau dustakan? Ayat Al-Quran yang diulang sebanyak 30 (tiga puluh) kali dalam surat Ar-Rahman ini menandakan bahwa kepada-Nya lah kita seharusnya bergantung, dan senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang tanpa sadar kita dapatkan.







