Do It Yourself Project : Menyelenggarakan Multipoint Video Conferencing Menggunakan Skype Oktober 28, 2009
Posted by gora in Classroom 2.0, Creative Idea, Creative Ideas, DIY Project, E-Learning, Education, Information Technology, Research, Software, Telecommunication, Video Production, Vlog, Web 2.0, internet application.Tags: low cost teleconference, multipoint, skype, video conference
add a comment
Menyelenggarakan video conference dengan banyak orang di tempat terpisah terkadang di benak kita masih terbesit pikiran untuk melakukannya butuh biaya yang mahal. Ada berbagai macam peralatan yang biasa digunakan untuk melakukan hal tersebut salah satunya Polycom, namun perangkat tersebut harganya tentu saja harganya sangat mahal, sekitar 80 jutaan. Hal ini tentu saja sangat mustahil untuk bisa dilakukan oleh institusi atau pribadi dengan kocek minim
.
Ada alternatif lain untuk menyelenggarakan video conference dengan 4 (empat) tempat berbeda atau yang sering disebut dengan multipoint video conference, yaitu memanfaatkan aplikasi gratis Skype. Skype adalah salah satu perangkat VoIP (Voice Over Internet Protocol) yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi suara, teks dan gambar video secara gratis dan sangat populer di dunia maya. Aplikasi Skype ini secara default hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi video secara point-to-point saja, alias antara satu peserta dengan satu peserta. Namun dengan sedikit kreatifitas, aplikasi ini akan kita gunakan untuk melakukan komunikasi multipoint, atau dengan banyak tempat dan client.
Kami telah mengujicobakan hal ini ketika pelaksanaan kegiatan video conference yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Syahrul Yasin Limpo) dengan 3 (tiga) Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) binaan DBE2 USAID beberapa waktu yang lalu dalam acara Dies Natalis Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Hasilnya memang tidak begitu sempurna, artinya sedikit berbeda kualitas dengan dibandingkan dengan perangkat video conference yang mahal seperti Polycom. Namun hal ini cukup memberikan pengalaman tersendiri khususnya untuk beberapa PSBG yang mengikuti acara ini, yaitu PSBG Pelita Ilmu di Pangkep, PSBG Karya Mandiri Guru di Makassar dan PSBG Harapan Baru di Jeneponto dimana mereka untuk pertama kalinya dapat melakukan dialog secara langsung dengan Rektor UNM dan Gubernur Sulawesi Selatan.
Pengembangan Jaringan Gugus Sekolah (ClusterNet), Upaya Gotong Royong Menghubungkan Sekolah dengan Jaringan Global Oktober 8, 2009
Posted by gora in Classroom 2.0, Creative Idea, DIY Project, Diary, E-Learning, Education, Information Technology, Internet Service, Telecommunication, Web 2.0, internet application.Tags: computer network, internet connection, low cost antenna, rt-rw net, teacher professional development
3 comments

Antenna pemancar yang menjulang tinggi di depan gedung Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) Ki Hajar Dewantara, Kaliwungu, Kudus
Decentralized Basic Education 2 : Teaching and Learning (DBE2) sebagai proyek peningkatan kualitas belajar mengajar di pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengembangkan Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) guna mendukung dan memfasilitasi berbagai kegiatan di setiap gugus sekolah sebagai peningkatan Pusat Kegiatan Guru (PKG) yang telah ada lebih dulu. Sesuai dengan (4) empat fungsinya, Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) yang tersebar di seluruh Indonesia akan digunakan oleh berbagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai tempat pertemuan membahas berbagai rencana kegiatan di gugus (fungsi Pertemuan), sebagai tempat berlangsungnya berbagai kegiatan pelatihan untuk guru (fungsi Pengembangan Profesional), tempat untuk mengembangkan materi pembelajaran dan alat peraga murah (fungsi Produksi), serta menjadi wahana mengakses sumber pembelajaran baik berupa buku, CD Multimedia maupun secara online mengakses sumber pembelajaran di Internet (sebagai fungsi Informasi).
Khusus untuk mendukung keempat fungsi tersebut, terutama untuk mendukung kegiatan komunikasi, kolaborasi, melakukan pencarian dan eksplorasi sumber belajar, PSBG perlu untuk terhubung dengan jaringan global yaitu Internet serta menghubungkan komputer yang ada di PSBG dengan jaringan lokal (Local Area Network). Untuk itu PSBG membutuhkan infrastruktur jaringan Internet dan Intranet, kegiatan ujicoba dan pelatihan untuk mengoptimalkan jaringan yang ada nantinya. Oleh karena itu DBE2 melakukan ujicoba kegiatan “ClusterNet (Cluster Network)” sebagai upaya untuk pembangunan jaringan internet dan jaringan lokal di gugus (cluster).

Antenna tutup panci bolic untuk menghubungkan sekolah dengan koneksi jaringan lokal dan Internet di gugus
Kegiatan ujicoba dilakukan di 4 (empat) PSBG yang berada di propinsi Jawa Tengah. Keempat PSBG tersebut adalah PSBG Ki Hajar Dewantara (Kaliwungu, Kudus), PSBG Pratiwi Sudarmono (Tahunan, Jepara), PSBG Gatotkaca (Jogonalan, Klaten) dan PSBG Diponegoro (Cepogo, Boyolali). Di keempat PSBG tersebut saat ini telah dibangun antena pemancar untuk menyebarluaskan koneksi jaringan lokal dan Internet yang ada di PSBG kepada sekolah sekitar. Kemudian sekolah yang ada di sekitar PSBG terhubung memanfaatkan perangkat penerima wireless murah yaitu dengan Tutup Panci Bolic
.
Dalam kegiatan ClusterNet ini warga gugus bergotong-royong untuk membayar biaya bulanan langganan Internet. Mereka juga diharapkan dapat berswadaya untuk membuat perangkat penerima wireless yang murah, untuk menghubungkan sekolah mereka dengan koneksi jaringan lokal gugus dan koneksi Internet. Harapan kami koneksi jaringan lokal dan Internet ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan guru dalam menunjang kegiatan pengembangan profesionalisme mereka serta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kepada siswa saat ini. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari gugus untuk melakukan hal ini mengingat kebutuhan pembiayaan yang tidak sedikit. Namun berkat dukungan yang kompak dari sekolah-sekolah yang ada di gugus, serta dukungan dari Kepala UPTD setempat, maka keberlangsungan aktifitas ini dipastikan akan berjalan. Semoga apa yang kita lakukan dapat memberi manfaat untuk pendidikan di Indonesia. Semoga!
Penerapan E-Learning di Sekolah, Tidak Sekedar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Juni 14, 2009
Posted by gora in Active Learning, Classroom 2.0, Creative Idea, E-Learning, Education, Information Technology, Internet Service, M-Learning, Publication, Software, Web 2.0, Workshop, internet application.Tags: E-Learning, integrasi teknologi dalam kelas, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, peningkatan kualitas pendidikan, technology integration in classroom
9 comments
E-Learning atau electronic learning memang telah menjadi tren pada beberapa tahun terakhir. Banyak sekolah dan universitas di Indonesia mengadopsi sistem pembelajaran ini di lingkungannya. Namun, banyak pihak merasa bahwa teknologi ini masih jauh untuk bisa diterapkan secara optimal di Indonesia, mengingat banyak keterbatasan yang ada.
Untuk mendukung penerapan e-Learning di sekolah, banyak sekali hal yang perlu dilakukan. Pengadaan infrastruktur server dan jaringan komputer serta penyediaan Learning Management System (LMS) sebagai ruang kelas virtual tempat berinteraksinya siswa dan pembelajar (fasilitator/guru/dosen) seringkali menjadi fokus utama dari implementasi e-learning.
Biasanya setelah infrastruktur dibangun dan ruang kelas online tersedia, maka dilaksanakanlah pelatihan dan sosialisasi dari sistem yang baru saja dibangun. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dsb.
Hadir dalam pelatihan tersebut dosen yang memiliki paradigma “lama” yang resisten terhadap perkembangan teknologi dan dosen yang berparadigma “baru” yang sangat tertarik dengan perkembangan teknologi. Dosen berparadigma lama menganggap bahwa mereka sudah tidak memiliki waktu lagi selain di kelas tatap muka, untuk melakukan hal-hal tambahan seperti belajar teknologi baru, membuka ruang kelas virtual untuk menjawab pertanyaan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan dosen berparadigma baru akan memberikan respon yang kuat, mereka sangat tertarik untuk dapat secepatnya menerapkan di kelasnya, dan mereka sangat antusias untuk mempelajari hal-hal baru.
Hal tersebut diatas adalah hal yang lazim kita temui di Indonesia, dimana inovasi penerapan teknologi pendidikan sangat lamban terjadi. Keadaan ini memang harus dimaklumi mengingat kendala pemerataan teknologi dan minimnya dukungan pemerintah terhadap inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Namun perlu diberikan penekanan, bahwa konsep dasar e-Learning adalah “pedagogi yang diperkuat oleh teknologi” (Wikipedia, 2009), sehingga guru harus berfikir tentang banyak aspek dari pedagogi dibanding kepada sisi teknologi saja. Artinya, guru haruslah memikirkan berbagai strategi pembelajaran agar efektif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan fokus mengajarkan teknologi baru ini kepada para siswanya. Karena teknologi disini hanyalah sebagai “alat bantu” untuk mendukung tujuan pembelajaran itu sendiri.
Membuat Majalah Online dengan OpenZine Mei 10, 2009
Posted by gora in Active Learning, Classroom 2.0, Creative Idea, DIY Project, E-Learning, Education, Information Technology, Inside My Brain, Internet Service, Web 2.0, internet application.Tags: e-portfolio, PBL, portfolio elektronik, project based learning, Web 2.0
add a comment
Mempublikasikan berita komunitas, majalah sekolah dan portfolio siswa secara online dapat dengan mudah Anda lakukan menggunakan sebuah aplikasi Web 2.0 bernama OpenZine. Lewat fasilitas ini Anda tidak sekedar menyertakan media teks dan gambar saja seperti halnya ketika kita membuat majalah konvensional, dalam malajah online yang dibuat menggunakan OpenZine, kita dapat menyertakan audio dan video, sehingga majalah online kita akan nampak lebih interaktif. Bahkan Anda pun dapat berkolaborasi bersama teman-teman untuk menyusun majalah online.
Skenario Integrasi OpenZine dalam Aktivitas Pembelajaran
Dalam pembelajaran berbasis proyek (PBL, Project Based Learning) kita dapat menggunakan aplikasi OpenZine sebagai media bagi siswa/siswi kita ketika membuat portfolio elektroniknya (E-Portfolio). Mereka dapat dengan mudah menyusun portfolio dalam bentuk majalah online, berkolaborasi dengan teman satu kelompoknya untuk membangun sebuah majalah, dan mempublikasikan lewat Internet dengan mudah.
Melatihkan keterampilan ini selain melatihkan keterampilan penggunaan teknologi informasi juga melatih soft skill mereka tentang bagaimana bekerjasama dan berempati dalam kelompok, berkomunikasi lewat media online, dan berkreatif dengan menuangkan ide dalam tulisan.
Today, Launch TRYOUT Ujian Nasional 1.0 Beta Version Januari 28, 2007
Posted by gora in Creative Ideas, My Diary, internet application.10 comments
Almost 2 month our software development team in UPT Komputer & Teledukasi Islamic University of Sultan Agung (UNISSULA) Semarang developing new internet application, it called TRYOUT UAN ONLINE. You can access this web application at http://sinau.unissula.ac.id/un/. Now, this apps is still in beta version, it means that this application not ready for published, but it just for trying out. It made for students in high school, to prepare themself in Ujian Nasional 2007. You can try it now, please give me a comment to make it better.










